baby · holiday · marriage life · travelling · Uncategorized

Japan (tokyo) trip 

Hello! Saya kembali dengan segudang cerita dari Tokyo! Brace yourself,it’s gonna be a very long story.

Liburan ke Jepang ini sebenarnya liburan impulsif. Cerita lengkapnya disini. Ga pernah nyangka kalau tahun ini kita diberkati Tuhan untuk bisa menginjakkan kaki di negeri sakura (walo ga liat sakuranya). Liburan ini juga merupakan liburan jauh pertama buat kami setelah 5 tahun menikah sekaligus liburan ke luar negeri pertama sama Axel. Cukup bikin deg-degan buat saya, makanya banyak hal yang harus kita persiapin sebelumnya.

And I would like to say my biggest thank you to my blogger friends: Leony, Angela, Inge which has helped me a lot during my preparation. Blog post Leony & Angela sangat detail, jadi semacam guidebook buat saya. Dan special thanks to Inge (Adelheid) yang bersedia ditanya macem-macem dan kasih banyak insight dari sisi penduduk Jepang, karena dia memang tinggal disana.

Dan untuk teman ‘seperjuangan’, Gill, I wish you luck! Semoga cerita Jepang saya uda selesai sebelum kalian berangkat hahaha.

Touch down Narita! Yeay! We made it!

Preparation & Strategy

City destination

Hal pertama yang kita pikirin adalah, mau ke berapa kota? Biasanya orang-orang ke Tokyo, Kyoto, Osaka dalam 1 trip. Kita akhirnya mutusin untuk ke Tokyo aja karena ini trip luar negeri pertama kita sama Axel, so we are gonna take it easy. Kalo pindah kota takutnya bakal repot, lagipula kita hanya 7 malam disana dengan 2 hari full day di Tokyo Disney, jadi waktu di Tokyo juga ga lama mengingat banyak yang bisa diliat disana.

Dan keputusan kita tepat, karena setelah dijalanin ternyata kita bahkan belum puas di Tokyo, dan badan uda mau rontok saking capenya. Padahal jadwal kita termasuk longgar. Mungkin faktor U haha.

Hotel vs Airbnb?

Ini keputusan yang cukup sulit, karena harga hotel di Tokyo relatif mahal dengan size kamar yang kecil. Jadi akan lebih reasonable untuk pakai airbnb, plus kalo nginep di airbnb dapet pinjeman modem wifi gratis. Tapi kita belum pernah nginep di airbnb sebelumnya, jadi agak worry dengan banyaknya pro kontra soal airbnb. Banyak si review bagus utk airbnb di Tokyo, tapi kalo kita ga beruntung dan pas dapet yang ga enak? 

Akhirnya kita putusin untuk nginep di hotel aja. Pertimbangannya, walaupun kamarnya kecil, toh kita cuma berdua plus 1 bayi, kita orang asia yang badannya ga gede kaya bule, dan kita rencana bawa sedikit koper, jadi harusnya masih ok dengan ukuran kamarnya. Pertimbangan selanjutnya, saya ga akan masak dan cuci baju, karena Axel akan makan sama kita aja, jadi kita ga perlu dapur dan tempat cuci baju yang jadi keunggulan kalau nginep di Airbnb. Lagipula, saya juga malas bersih-bersih kamar (yang harus dilakukan sendiri kalau nginep di Airbnb), jadi lebih baik nginep di hotel aja yang uda terima beres. Dan alasan terakhir, kita nemu good deal hotel dengan beli member accorplus. Detailnya nanti dijelasin di bawah ya.

Backpack vs Luggage? 

Sempet terlintas untuk bawa backpack aja supaya lebih mudah dibawa-bawanya, mengingat harga taksi yang selangit di Tokyo, sehingga kita bakal naik kereta / bus dari airport ke hotel dan sebaliknya. Kalau naik kereta juga di stasiun nya bakal banyak tangga,jadi akan cukup merepotkan kalau bawa koper.

Setelah ditimbang-timbang, kita putusin untuk tetep bawa koper aja. Pertama karena kita belum punya backpack nya, kalau harus beli lagi akan jadi cost tambahan yang belum tentu kepake lagi. Kedua, ke-2 ‘suhu’ blogger yang postingan Jepangnya saya jadiin guidebook pakai koper untuk trip ke Jepang, dan mereka juga pakai kereta/ bus untuk transportasinya. So if they can do it, we also can. Leony malah uda review merk koper yang oke untuk dibawa ke Jepang, yaitu Lojel. Jadi kita ngikut dan beli Lojel juga untuk dibawa ke Jepang. Saya uda pernah testdrive Lojel saya waktu ke Bali (ceritanya disini), dan hasilnya sangat memuaskan. Jadi saya confident untuk bawa Lojel saya ke Jepang. Dan lagi-lagi hasilnya sangat memuaskan. Walaupun full load, Lojel tetap gampang didorong. Rodanya mantap sekali. 

Total bawaan kita adalah 1 koper besar Lojel + 1 koper cabin Lojel + 1 gym bag (tas cadangan) + stroller Pockit + 1 backpack Ripcurl + 1 slingbag Longchamp. Banyak juga ya. Tadinya mau bawa 1 koper gede aja + 1 gym bag untuk cadangan pas pulang, tapi ternyata ga muat. Plus regulasi JAL yang 1 koper hanya boleh maks 23kg dan ga boleh digabung allowance nya cukup bikin ribet. More of this story later. 

Total bawaan waktu berangkat
Tambahan tas waktu pulang. Isinya baju kotor. Uda mau pulang muka saya uda kucel kecapean, eh kok axel nya malah keliatan hepi haha

Stroller vs Baby carrier

Ini juga hal yang sempat jadi perdebatan panjang. Ada beberapa yang bilang Jepang ga stroller friendly. Walaupun trotoarnya stroller friendly, tapi kalo uda masuk train station (yang bakal jadi transportasi utama selama di Jepang), ga semua station ada lift dan banyak yang aksesnya hanya tangga, banyak pula tangganya. Jadi pasti akan merepotkan kalo bawa stroller, bakal harus gotong-gotong stroller. 

Utin sempet ngotot gausah bawa stroller karena hanya akan ngerepotin, apalagi kalo strollernya gede (dulu belom punya pockit) dan waktu itu Axel lagi mogok duduk di stroller. Tapi setelah tanya-tanya, saya tetep milih bawa stroller, karena walaupun ribet tetep aja stroller lebih baik daripada harus gendong sepanjang hari. Di Jepang kan bakal banyak jalan, tanpa harus gendong aja pasti kaki pegel, gimana tambah gendong bayi 9kg haha. Selain stroller, baby carrier juga wajib dibawa tentunya, saya bawa Boba 4G karena emang itu doank punyanya.

Ketika si bayi maunya nemplok, stroller jadi tempat untuk taro tas

Pertanyaan selanjutnya, stroller apa yang mau dibawa? Kembali kepada concern pertama soal banyaknya tangga, agak ga mungkin bawa Easywalker buggy saya, karena beratnya sekitar 7.5kg. Kedua suhu blogger saya (baca : Leony & Angela) bawa Aprica Karoon nya, dan sangat merekomendasikan Aprica yang memang buatan Jepang. Trus pas liat IG, ada temen saya yang ke Jepang juga bawa Aprica Karoon. Mereka ini team Aprica banget deh. Sungguh saya sempet galau mikir apa mending beli Aprica ya haha. Tapi harga Aprica cukup mahal, hampir seharga (atau lebih mahal?) Easywalker (EW) buggy saya dengan model yang mirip. Kan sayang. 

Di sisi lain, Dina sangat merekomendasikan Pockit. Dia memang belom ke Jepang bawa pockit,tapi waktu ke Europe dia sangat tertolong dengan Pockotnya. Sebagai pengguna Aprica dan Pockit, dia berhasil membuat saya milih Pockit yang memang lebih reasonable harganya, dan lebih make sense untuk beli Pockit karena modelnya beda banget sama EW. Jadi kalau saya harus punya 2 stroller, saya punya 2 stroller yang beda model.

Tapi kegalauan masih berlanjut karena Pockit ga punya tutupan kepala (ada sih tapi cuma kaya topi), dan ga bisa full recline. Takut kalo panas ato ujan ga bisa melindungi. Ujan maksudnya yang gerimis-gerimis gitu ya. Kalo ujan gede mah uda pasti neduh hehe. Dan Aprica masih menang di sisi ngelipet dan ngebukanya bisa pake 1 tangan. Apalagi Angela sangat berbaik hati mau pinjemin Aprica nya. Wah tambah galau deh. 

Singkat cerita, akhirnya kita bawa Pockit ke Jepang. Kenapa? Soalnya kita dikasih Pockit (request tepatnya) sebagai hadiah ultah Axel dari temen-temen kantor Utin. Yeay! Problem solved hahaha.

Dan hasilnya? Puas banget! Resmilah saya bergabung dengan tim Pockit. Untungnya Axel betah banget di Pockit. Dia bisa duduk lama disitu. Walau sejauh ini cuma berhasil 2x tidur di stroller, tapi gapapa deh yang penting betah duduknya. Lalu karena size Pockit yang kecil, saya bisa sangkutin Pockit di atas koper cabin. Jadi saya gendong Axel plus bawa koper kabin+stroller. Utin bawa koper gede + backpack + liat map haha. Canggih kan. 

Sekali-kalinya selama di Jepang Axel ketiduran di stroller.Btw Itu fotonya di depan Ichiran Ramen

Oya kalau ke Jepang di musim hujan jangan lupa bawa rain cover stroller ya. Guna banget tuh. Waktu ke Jepang ada 1 hari hujan terus. Hujan kecil sih, tapi sepanjang hari. Karena ga mungkin taro Axel di stroller dengan rain cover (anaknya pasti ngamuk), jadilah kita taro barang di stroller yang ditutup sama rain cover stroller. Lumayan banget jadinya gausah berat bawa backpack dan tas nya juga ga keujanan. Soalnya kita cuma punya 1 payung yang dipake bertiga, ga cukup kalo payungin stroller sama tas juga.

Disneyland vs Disneysea

Ini si ga perlu mikir terlalu panjang, karena saya pengen ke 2-2 nya. Tadinya sempet mikir untuk pilih salah satu aja, karena Axel masih kecil juga kan belom ngerti. Tapi karena kita cuma di Tokyo aja jadi saya ada waktu untuk ke Disneysea dan Disneylans. Kalo ini murni saya yang pengen, karena saya punya impian buat ke semua Disney park di dunia hihi. 

Apa bedanya? Tokyo Disneyland mirip dengan Disney park di negara lain. Dibanding Hongkong Disneyland, Tokyo Disney lebih besar dan lebih bagus. Sedangkan kalau Disneysea hanya ada di Jepang, rides nya lebih banyak untuk dewasa (dibanding TDL), dan lebih tematik.  TDS ini bukan dikelola oleh Disney lo, tapi afiliasinya. Tokoh utamanya juga bukan Mickey Minnie, tapi Duffy dan Stella Lou. Tapi tetep ada kok Mickey & friends disana. Nanti saya cerita soal TDL dan TDS lebih detail di postingan terpisah ya.

Kalo ada yang bingung harus milih antara Disneyland atau Disneysea, kalian baca blognya TDR explorer deh. Ini cukup membantu. Tapi kalau kalian Disney fan kaya saya, ya harus ke 2-2 nya haha. 

JR pass or No?

Kalau ada pameran travel Jepang, salah satu yang dijual adalah JR Pass. Apa si itu JR pass? Singkatnya, Japan Railroad (JR) pass adalah unlimited ticket untuk naik kereta yang dikelola oleh JR. Termasuk di dalamnya semua JR line, (selected) Shinkansen (kereta cepat antarkota di Jepang) , NEX (Narita Express – airport train dari Narita ke downtown Tokyo), (selected) bus dan ferry. JR ini punya pemerintah. Kalo saya bayanginnya JR ini macam KAI di Indo. Jadi kereta yang dikelola oleh pemerintah. JR pass ini hanya dijual di luar Jepang. 

Sedangkan untuk kereta di dalam kota / subway, selain JR line ada juga kereta yang dikelola oleh swasta: Tokyo Metro dan Toei. Nah kalo mau naik yang swasta ini ga bisa pake JR pass, jadi harus bayar lagi. Kalo mau naik JR line semua harusnya bisa juga si (ini asumsi ya, saya ga pernah coba),tapi konsekuensinya ya mungkin harus muter-muter atau jalan kaki lebih jauh. Btw, subway/train map tokyo itu ribet banget. Kalo ga percaya silahkan google sendiri. 

Menurut saya JR pass worth dibeli kalau mau pindah kota dengan shinkansen. Karena harga tiket shinkansen (PP) kurang lebih sama dengan harga JR pass. 

Karena saya hanya di Tokyo, jadi saya ga beli JR pass. Untuk menghemat saya beli Tokyo Metro Day Pass. Detailnya saya jelasin di bawah ya. 

Kaya gini bentuk kereta JR. Tuh keliatan logo JR nya. Maafkeun pose geje saya ya haha

Modem Wifi vs Sim Card

Kalau dulu jadi turis harus bawa peta kemana-mana supaya ga nyasar, jaman sekarang tinggal bawa smartphone, thanks to Google Map. Tentunya untuk bisa akses Google map harus punya koneksi internet ya. Dan biar punya akses internet ada 2 opsi : beli SIM card Jepang atau sewa modem Wifi. Ada opsi lain juga si, buka data plan di luar negeri,tapi tergantung providernya. 

Saya pilih untuk sewa modem aja. Selain karena lebih murah, 1 modem Wifi bisa dipake sampe 5 device. Minusnya, harus prepare extra charger dan power bank karena lebih banyak device yang perlu dicharge. 

Sewa modemnya bisa dari Indo atau sewa di Jepang langsung (airport/hotel pickup). Kita pilih sewa di Indo aja biar lebih praktis, jadi sampe Jepang uda bisa langsung nyala dan dipake internetnya. Reviewnya saya tulis di bawah ya. 

Visa Jepang

Untuk dapet VISA Jepang sebenernya bisa urus sendiri ke kedutaan Jepang. Kalo baca-baca si prosesnya ga ribet dan bisa diwakilkan (maksudnya 1 keluarga bisa diwakili oleh 1 orang, ga harus semuanya dateng). Tapi kita tetap urus VISA via travel agent karena selisihnya ga banyak dibanding kalau urus sendiri. 

Kita urus VISA lewat WITA tour, karena mereka bisa pick up dan antar dokumen tanpa biaya tambahan. Harganya IDR 475.000 per orang untuk single entry (Juli 2017). Axel juga sama. Kita pake passport biasa, bukan epassport. Prosesnya 5-7 hari kerja. 

Transportation & Accomodation

Airlines : Japan Airlines

Berhubung tiket promo, saya ga bisa milih airlines dan jam nya. Jadi saya terima apa adanya aja. Pesawatnya JAL, jadwalnya berangkat pagi (CGK-NRT) dan pulang sore (NRT-CGK). Quite good ya jadwalnya untuk tiket promo,walaupun harus tiba di Jkt tengah malam.

Ini pertama kalinya saya naik JAL. Kalo baca-baca JAL reviewnya oke banget. Dan ternyata memang oke (perlu dicatat kalau daftar airline yang pernah saya naikin ga banyak, jadi pembandingnya sedikit). 

Sebelom take off foto dulu. Axel ngantuk karena bangun subuh

Service nya oke, pramugarinya ramah. Mereka sangat concern soal safety (seperti orang Jepang pada umumnya). Mereka juga lebih concern sama penumpang yang bawa bayi kaya saya (dibanding pengalaman saya waktu naik Garuda), dan ramah juga ke bayi nya. Makanan standard aja. Tapi poin plus karena kita dapet ice cream Hagendaaz sebagai dessert pas flight pulang haha. 

Berhubung bawa bayi, saya request baby cot mumpung Axel beratnya belom 10kg. Akhirnya ga kepake buat tidur sih itu cot nya, tapi dipake buat main aja, sama kita bisa dapet row paling depan,lumayan lebih lega hehe. Terus, saya ga tau kalo baby food nya harus request di awal. Jadi kemaren ini ga dipesenin sama travelnya dan saya ga request, jadinya Axel ga dapet makan. Padahal tetangga sebelah yang bawa bayi seumur Axel dapet makanan. No big deal sih, karena axel bisa makan sama saya juga. Notes to myself, lain kali harus cek soal baby food ini. 

Seru baca buku dari @Bendikids
Bentuk baby bassinet di JAL
Kalo ketauan pramugari pasti ditegur haha

Satu-satunya poin minus untuk JAL adalah regulasi mereka tentang bagasi. 1 orang boleh bawa 2 koper bagasi, tapi masing-masing koper strictly cuma boleh 23kg. Jadi walau kita berdua hanya bawa 1 koper besar, koper itu juga cuma boleh 23kg, allowance nya ga bisa diakumulasi. Repot banget sih ini. Kita ga mungkin bawa banyak koper, tapi ga mungkin muat juga 1 koper besar 23kg. 

Gara-gara ini waktu pergi kita uda overweight donk. Dirumah saya nimbang koper saya 22kg, jadi saya pikir masih aman. Eh sampe airport masa 27.6kg?!!! Gile aja tu timbangan ga kira-kira. Akhirnya harus keluarin tas cadangan. Di luar plan kita banget nih, masa baru berangkat aja uda musti keluarin tas cadangan. Jadi hati-hati ya buat yang naik JAL (denger-denger ANA juga sih), lebih baik spare banyakan untuk timbangan kopernya, terutama yang berangkat dari Jakarta. Kalau bisa bawa koper banyakan mending bawa koper banyakan aja sekalian, daripada repot-repot pindahin barang di airport. 

Hello Tokyo! Axel manyun karena baru bangun

Transport from Narita to Tokyo : The Access Narita

Tokyo punya 2 airport, Narita dan Haneda. Narita terletak di pinggiran Tokyo, jadi jauh dari pusat kota,kalau Haneda lebih dekat dengan pusat kota. Berhubung saya belinya tiket promo, saya ga punya opsi. Kebetulan rutenya tiba di Narita. Jadi saya harus cari tau gimana caranya dari Narita ke pusat kota Tokyo. 

Opsinya adalah naik bus atau kereta. Taksi jelas bukan opsi karena harganya setinggi langit. Mempertimbangkan saya bawa Axel, saya ga prefer kereta, karena dari platform kereta ke pintu keluar aja bisa jauh jaraknya dan naik turun tangga. Jadi akan merepotkan kalau harus geret-geret koper sepanjang station sambil gendong Axel. Jadi saya prefer naik bis, airport bus tepatnya.

Ada 3 opsi airport bus : airport limousine bus, tokyo shuttle dan the access narita. Kita mikir lumayan lama untuk masalah bis ini, jadi coba saya jabarin ya pro kontranya berdasarkan yang saya tau. 

Aiport limousine bus. Ini bus yang paling banyak rutenya ke seluruh penjuru Tokyo. Selain karena rutenya yang banyak, kelebihan lainnya adalah bis ini berhenti di beberapa hotel besar di tiap area nya. Bisa cek di websitenya untuk liat hotel apa aja yang jadi tempat pemberhentian bus ini. Kalau kebetulan nginep di hotel yang dilewatin bus ini sih enak banget, ga usah repot geret-geret koper hehe. Minusnya, harga bus ini paling mahal dibanding 2 opsi lainnya, 3500 yen /way atau 4500 yen/ 2 way. Kalau mau naik bus ini bisa beli tiket di counternya di airport. 

Tokyo Shuttle Alias 1000 yen airport bus. Bus ini dilengkapi dengan free wifi dan charging dock. Kelebihannya tentu aja karena harganya yang jauh lebih murah dibanding Airport Limousine Bus, yaitu 1000 yen / way. Bus ini juga banyak, berangkat tiap 15-20 menit sekali. Kalau Airport Limousine ada timetable khusus nya, seinget saya sedikit lebih jarang dibanding Tokyo Shuttle / The Access Narita. Minusnya adalah Tokyo Shuttle hanya punya rute ke Tokyo Station dan Ginza. Jadi kalau mau ke area lain di Tokyo harus nyambung naik train lagi. Untuk naik bus ini bisa beli tiketnya di counter Keisei Bus di airport. 

The Access Narita. Ini juga termasuk 1000 yen airport bus. Harganya sama,1000 yen, rutenya juga sama, hanya Tokyo Station dan Ginza, hanya beda stop pointnya aja. Bedanya sama Tokyo Shuttle adalah The Access Narita dilengkapi dengan toilet, dan mereka juga klaim punya leg room yang lebih besar. Bedanya lagi, untuk naik The Access Narita ga perlu beli tiket dulu, tapi langsung bayar di bus nya. Satu lagi perbedaannya adalah kalau bis Tokyo Shuttle dengan jelas ada tulisannya ‘Tokyo Shuttle’, kalo bis The Access Narita ini ga ada tulisan ‘The Access Narita, tapi tulisannya JR Kanto, dengan bis berwarna biru putih. Jadi sebelum naik pastiin dulu ya kalo itu bis yang bener haha.

Jadi akhirnya naik yang mana? Awalnya kita mau naik Airport Limo Bus, karena ada rute yang langsung ke Shinjuku (hotel pertama kita letaknya di Shinjuku), dan jarak dari bus stop ke hotel hanya 3 menit jalan kaki. Tapi naik airport limo baru worth kalau beli return tiket, sedangkan hotel ke-2 letaknya di Ginza, dan akan lebih hemat kalau naik The Access Narita untk ke airport. 

Jadi setelah dipikir-pikir kita naik The Access Narita aja supaya lebih hemat. Lumayan kan seorang bisa hemat 2500 yen, berdua jadi 5000 yen (Axel masih free). Kita emang bakal lebih repot karena harus lanjut naik train dari Ginza ke Shinjuku, tapi gapapa lah, baru sampe kan masih excited hehe. Lagipupa kedua hotel kita ga ada yang jadi pemberhentian nya airport limo, jadi ujung-ujungnya tetep harus jalan kaki lagi. 

Kenapa ga naik tokyo shuttle? Karena Access Narita direkomen sama orang hotelnya (instead of Tokyo Shuttle), karena bisa langsung bayar di bis, dan karena ada toiletnya. Jadi in case Axel harus ganti pampers ga usah pusing haha. Soalnya lumayan perjalanan dari Narita ke Ginza itu sekitar 80 menit.

Foto di The Access Narita

Reviewnya? Ok banget! Tadinya saya pikir karena harganya setengahnya airport Limo bus, bus nya bakal lebih jelek. Tapi engga loh. Jepang emang top banget soal jaga kualitas dan service. Ga usah worry deh kalo di Jepang soal transportasinya (kecuali soal harga haha). 

Jadi kalau kalian nginep di daerah Ginza/ Tokyo Station atau ga masalah untuk lanjut dengan subway dan pengen menghemat, saya sangat rekomen The Access Narita ini. Tapi kalau kalian kebetulan nginep di hotel yang jadi pemberhentian Airport Limo bus, demi kenyamanan sih boleh lah pake Aiport Limo, jadi ga usah pusing-pusing soal geret-geret koper, apalagi kalo bawa anak kecil kaya saya hehe.

Tokyo Subway 24 /36 / 72 Hour

Di atas saya uda jelasin soal JR pass, yang memang kita ga beli karena kita ga berencana keluar dari Tokyo. Jadi untuk menghemat cost transportasi di Tokyo, kita beli Tokyo Subway Day Pass. 

Kalau pake tiket ini kita bisa naik sepuasnya untuk semua kereta di line nya Tokyo Metro dan Toei selama masih dalam periode tiket. Unlimited ticket ini ada 3 jenis, 24 jam (800 yen), 36 jam (1200 yen), 72 jam (1500 yen). Hitungannya jam, bukan hari, jadi lebih menguntungkan. Misalnya pertama kali pake jam 9 malam, maka expirednya adalah 24jam/36jam/72jam dari jam 9 malam tersebut. 

Tokyo Metro Day Pass ini cuma berlaku untuk turis. Kalau mau beli harus tunjukkin passport. Dan hanya bisa dibeli di airport, di Bic Camera,atau di tourist infomation center. Kalo ga salah ada beberapa jenis discounted ticket nya Tokyo Metro. Yang saya maksud adalah ticket yang ini

Bisa hemat banyak atau engga kalau pakai ini? Tergantung rute jalan-jalannya. Sebagai perbandingan, harga train tiket sekali jalan sekitar 150-300 yen. Jadi kalau kalian berencana muter-muter Tokyo dan pindah ke beberapa tempat dalam sehari, uda pasti day pass ini menguntungkan. Tapi kalau cuma berencana ke 1 tempat dalam sehari, mungkin ga perlu beli day pass. But it’s your choice. Sebenernya kalau niat, bisa liat di hyperdia/google map harga per trip dan opsi rute nya. Jadi bisa dihitung-hitung dulu perlu beli day pass atau engga. Tapi kemaren saya ga sempet hitung jadi langsung beli aja haha. 

Kita beli Tokyo Metro 72 hour pass setibanya di airport, dan baru dipake di hari kedua. Sayangnya, baru sekali pake saya uda ilangin tiketnya *hiks. Jadi lenyaplah 1500 yen saya huhu. Untungnya tiketnya Utin masih ada, jadi lumayan bisa hemat. Sedangkan saya jadi pake Pasmo aja, takut ilang lagi kalau beli day pass huhu. 

Trus di hari ke-5 kita putusin untuk beli 24hour day pass, karena day pass sebelumnya uda expired dan hari itu kita bakal banyak pindah-pindah tempat. 24 hour day pass nya kita beli di Bic Camera Ginza. 

Kebalikannya JR pass, tiket ini ga bisa dipakai untuk kereta JR. Jadi kalau mau naik JR line, harus bayar lagi. Nah untuk bayar tiket kereta yang ga dicover sama day pass, kita harus punya yang namanya Pasmo/Suica. Itu semacam Flazz BCA atau emoney kalau di Indo. Bisa aja si kalau ga mau beli, tapi ya kita harus beli tiket manual di ticket machine. Kalau kita ga mau repot, jadi kita pilih beli Suica atau Pasmo aja. 

Suica atau Pasmo sama aja si, cuma beda perusahaan yang keluarin aja. Tapi ga ada perbedaan secara fungsi atau harga. Kemaren kita belinya Pasmo, simply karena nemu mesin pasmo duluan.

Untuk beli Suica/Pasmo harus ke ticket machine di stasiun kereta. Liat aja mesin yang ada logo Suica/Pasmo, trus pilih Language (English),trus tinggal pilih opsi purchase new Pasmo/Suica. Ada deposit 500 yen ya setiap pembelian Pasmo/Suica. Tapi nanti semua deposit bisa dikembaliin kok kalau balikin kartunya. Jadi sebelum pulang jangan lupa refund kartunya ke ticket office di station ya. Kecuali emang mau simpen kartunya buat kenang-kenangan, atau berencana mau ke Jepang lagi. Karena kartu itu masa berlakunya 10 tahun.

Kereta Tokyo Metro yang paling bagus yang pernah kita naikin selama di Tokyo
Bagus kan? Nuansa kayu gitu. Selama di Tokyo cuma dapet naik kereta kaya gini sekali

Foto lagi di kereta lain. Standardnya kaya gini keretanya

Accorplus membership

Di atas saya uda jelasin kalau pada akhirnya yang bikin kita memutuskan untuk pilih hotel daripada airbnb adalah kita nemu deal yang cukup oke dengan beli member Accorplus. Jadi Accorplus adalah membership untuk hotel di grup nya Accor, seperti Mercure, Novotel, Ibis, Sofitel, Pullman,dll yang berlaku world wide. Dengan membership tersebut kita bisa dapet special rate untuk hotel-hotel tersebut, juga dapet beberapa jenis voucher (misl free room upgrade, free breakfast), dapet diskon 50% setiap dine in di restaurant hotel, dan free complimentary stay sebanyak 2 malam. Complimentary stay ini yang kita ambil untuk nginep di Tokyo. 

Karena syarat complimentary stay ini ga bisa dipake 2 hari berturut-turut, jadi kita beli 2 membership. Satu atas nama Utin, 1 lagi atas nama saya. Jadi kita bisa pake free stay nya untuj 4 malam. Harga membership Accorplus 2.6 juta per orang (per awal 2017, saya lupa bulan apa). Jadi dengan kata lain harga kamar kita di Tokyo 1,3 juta per malam (exclude breakfast tentu aja). Good deal mengingat harga normalnya sekitar 2.5 jutaan per malam. 

Perlu diingat free stay ini tergantung availability. Kalau high season kemungkinan besar ga bisa. Kalo mepet-mepet kemungkinan besar juga ga bisa. Seinget saya free stay nya bisa dipake di Asia Pacific, tapi baiknya pastiin dulu ke marketingnya sebelum beli. Dan kita ga bisa cek availability nya sebelum beli member, jadi ya setengah gambling lah sebenernya haha. Untungnya kemaren kita bisa dapet free stay di tanggal yang kita mau. 

Di Tokyo ada 2 hotel Accor, yaitu Mercure Ginza dan Ibis Shinjuku. Untuk free stay kita pilih di Mercure Ginza (karena ratenya lebih tinggi dibanding Ibis, jadi lebih untung donk), dan 3 malam sisanya kita nginep di Ibis Shinjuku. 

Ibis Shinjuku

Saya pernah baca, kalau untuk first timer kaya saya, area yang direkomendasikan untuk nginep adalah Shinjuku, tepatnya dekat Shinjuku station. Karena Shinjuku ini lokasi yang cukup strategis untuk kemana-mana, terutama kalau mau day trip dari Tokyo. Di Shinjuku ada highway express bus terminal, tempat mangkal bus-bus ke luar kota. Kalau mau ke gunung Fuji naik bis, naiknya dari sini. Area Shinjuku juga besar dan lengkap untuk turis, banyak pertokoan dan restoran, ada taman (Shinjuku Gyoen), shrine dan ada juga Tokyo Government Metropolitan Building untuk liat city view dari atas secara gratis. Jadi untuk hari 3 malam pertama saya pilih untuk nginep di  Shinjuku. Dan setelah bandingin beberapa hotel di area ini, pilihan jatuh ke Ibis Shinjuku. Karena punya member kita dapet rate yang cukup oke, apalagi waktu itu pas lagi ada promo free breakfast. Kalau ga salah kita dapet 4 hari 3 malam include breakfast sekitar 5.5 juta. Not bad untuk harga hotel di Tokyo dan lokasi hotel yang hanya sekitar 3-5 menit jalan kaki dari Shinjuku station. 

Sebenernya opsi paling nyaman dari airport ke Ibis Shinjuku adalah naik Airport Limo Bus,turun di Shinjuku station west exit, kemudian jalan kaki sekitar 5 menit. Tapi berhubung kita mau menghemat, kita naik The Access Narita sampai Ginza kemudian lanjut subway Tokyo Metro (Marunouchi line) ke Shinjuku station. Saya uda baca sih sebelumnya kalau untuk first timer, shinjuku station bisa intimidating karena guede banget (gimana Tokyo Station ya? Haha). Tapi saya pikir harusnya masih oke karena toh saya punya google maps. Eh tapi ternyata Gmaps ga terlalu akurat dipake di dalam stasiun, mungkin karena di bawah tanah jadi signalnya ga gitu bagus. Yang ada dia muter-muter ga jelas dan ga bisa diandalkan.

Walaupun saya uda tau harus cari west exit, tapi ternyata di stasiun itu exit nya lebih banyak pake nomor dan angka. Misanya A1, B6, C8 dst dan saking gedenya itu A bisa dari A1-A11, demikian pula exit B,C, D dst. Dan petunjuk untuk ‘west exit’ susah ditemukan. Nah lo. Uda gitu yang saya baca kalo salah exit untuk muter baliknya aja bisa 20 menit (itu masih di dalam shinjuku station loh. Kebayang kan gedenya). Jadi saya rada panik waktu liat petunjuk arah ga ada yang tulisannya ‘west exit’ dan Gmaps ga bisa dipake,uda mana geret-geret koper plus kena peak hour orang pulang kantor lagi. Untungnya pas turun dari kereta ada tuh tulisan west dan east exit yang mengarah ke tangga,walo pas uda di atas tulisannya ilang haha. Tapi paling ga kita bisa kira-kira kita harus menuju arah mana. 

Untungnya di station itu ada peta lokasi gedung-gedung sekitarnya. Dan pas banget di peta yang saya liat itu ada hotel Ibis. Jadi bermodalkan itu kita tau harus cari exit yang mana (B16!), dan untungnya B16 nya di depan mata haha. Thanks God akhirnya kita bisa keluar dari station. Walaupun untuk keluar station kita harus angkut koper lumayan karena tangganya cukup tinggi dan ga ada lift. Kita ga berani cari lift di tempat lain karena takut nyasar tambah jauh. Jadi yaudah deh mari singsingkan lengan baju haha. Selama di Tokyo kayanya tambah berotot karena harus bolak balik gotong koper atau stroller haha 

Pas uda di atas Gmaps uda bisa dipake lagi, dan untungnya hotelnya ga jauh. Fiuh. Seneng banget pas liat plang hotel Ibis dari kejauhan. Lokasi hotel sangat strategis. Deket banget ke stasiun kereta, di sekitarnya banyak pertokoan dan juga restoran, dan pas di sebelahnya ada kombini (istilah untuk convenience store) Daily mart.

Shinjuku di malam hari

Hotelnya sendiri biasa banget. Resepsionis minimalis. Kemampuan bahasa Inggris staff nya so-so (minimal mereka masih ngerti apa yang kita omongin), tapi jauh lebih baik daripada rata-rata orang jepang pada umumnya. Ga ada yang namanya bell boy, koper ya angkut sendiri haha. Selama periode menginap hanya dapat 2 botol mineral water, tapi tap water bisa diminum

Hotel amenities standard, dapet kopi,teh, gula dkk, dapet sendal hotel dan yukata. Menariknya, body soap, shampoo, face & hand soap by Shiseido. Ukuran kamarnya relatif kecil, tapi masih ok buat kita, walo setelah koper dibuka ga ada space buat jalan haha. 

By Shiseido

Oya, saya perlu ingetin soal single dan double bed versi Jepang. Jadi di Jepang ini yang namanya double bed itu termasuk ranjang ukuran 120. Kadang ada yang cukup generous kasih ukuran 160. Mereka biasa bilangnya semi double sih. Kalau mau yang beneran double bed seperti di indo harus pesen kamar yang ada kingsize bed, yang harganya ga kira-kira. Jadi kalau lagi cari hotel di Jepang,teliti baca ukuran bed nya ya, termasuk kalau cari airbnb. Lalu biasanya kamar dengan twin bed lebih besar daripada kamar double bed. Jadi bisa consider untuk ambil twin bed daripada kingsize bed. 

Kurang lebih ini lebar 1 ranjang di kamar twin. Cukup buat saya ber2 Axel

Oleh karena itu jadilah kita pesan kamar twin bed, dengan request untuk kasurnya didempetin karena kita bawa baby. Tadinya uda request baby cot tapi ga dikasih karena Axel uda lebih dari 1 tahun. Baby cot hanya boleh untuk di bawah 1 thn. Jadi mereka offer untuk setting tempat tidurnya ditempelin ke tembok. Lumayan, jadinya kasurnya lebih lega dan ada space buat buka koper.

Walaupun ukuran kamar kecil, di kamar mandinya tetap ada bath tub. Yang saya baca bath tub ini standard untuk kamar mandi di jepang, karena orang jepang pada suka berendem. Makanya banyak onsen (pemandian air panas) di Jepang. 

Selain itu closet nya juga otomatis. Mungkin uda pada tau ya soal closet canggih yang banyak pencetannya ini. Berdasarkan pengamatan saya selama di jepang, closet elektrik ini juga sepertinya salah satu barang standard di Jepang, karena saya ketemu closet macam ini di hampir semua tempat. Mau di kedai kecil sekalipun closetnya seperti ini. 

Ini bentuk closetnya. Btw kalo minat di Indonesia juga dijual kok sama Toto, tipenya Neorest. Kalo iseng tanya aja harganya ke distributor Toto hehe

Hal lain yang menarik dari hotel ini adalah desainnya yang menurut saya efisien. Karena kamarnya kecil, jadi ga memungkinkan untuk ada lemari. Oleh karena itu mereka sediain semacam capstok dan gantungan baju di dinding lengkap dengan hangernya. Uda gitu disediain juga semacam semprotan (kayanya macam trika gitu), supaya bajunya fresh. Dan juga ada sikat untuk sepatu. Unik ya. Small stuff yang sepertinya penting untuk orang Jepang. 

Gantungan plus hanger sebagai pengganti lemari
Di dekat pintu ada tempat taro sepatu. Lengkap dengan sikat utk bersihin sepatu

Breakfast nya oke walaupun menunya sama semua selama 3 malam saya disana. Variasi makanan lumayan, walaupun lebih banyak western. Standard makanan Jepang emang enak sih menurut saya. Atau emang lidah kita aja yang cocok hehe. 

Secara overall saya suka nginep di ibis shinjuku. Bahkan saya lebih prefer Ibis daripada Mercure, karena Ibis hotelnya lebih baru, dan walaupun kecil tapi didesain dengan baik jadi sangat efisien. 


Mercure Ginza

Selain Shinjuku,salah satu lokasi yang direkomen untuk first timer adalah Ginza. Bedanya,Ginza ini lebih high end kelasnya. Kalo di Shinjuku kita bisa liat mobil dengan variasi brand, dari mobil tua banget sampe kekinian, kalo di Ginza pemandangannya adalah mobil-mobil sport mahal yang berseliweran kaya mobil sejuta umat. Beda banget ambience nya. 

Secara lokasi Ginza memang strategis. Ga jauh dari Tokyo Station (stasiun kereta terbesar di Tokyo), dan 1000 yen airport shuttle bus berhenti disini. Ginza juga deket banget sama Tsukiji fish market, buat yang suka seafood, sushi dan cemilan lainnya. Pertokoan brand high end juga bertebaran disini. Tapi jujur saya disini sih berasa jiper duluan, berasa ga sanggup beli apa-apa hahaha. 

Foto di salah 1 landmark Ginza
Baru nyadar nih foto di Ginza ga banyak. *nyesel
Satu-satunya foto pertokoan di Ginza. Merk high end macam Patek Philipe dan Mont Blanc aja tokonya ‘cuma’ segitu

Saya nginep di Mercure Ginza di hari ke-4 trip saya. Dari Ibis Shinjuku ke Mercure Ginza sebenernya ga susah, cuma naik 1x Tokyo Metro Marunouchi Line sampai Ginza station kemudian jalan ke hotel sekitar 10 menit. Kali ini ga susah untuk nemu exit station nya. Tapi lumayan jauh jalannya dari Ginza station ke hotel, apalagi dengan bawa koper plus gendong bayi. Sampe receptionist udah kucel dan keringetan kaya turis gembel, apalagi Mercure hotel itu walaupun hotel tua tapi ambience nya yang luxury gitu, dengan lantai karpet dan suasana remang ala hotel bintang 4 ke atas, staff nya berdasi dan ber jas. Tambah kaya gembel lah kita disitu hahha.

Beda banget emang kelasnya Mercure dan Ibis. Kalau di Ibis kemampuan bahasa inggris staff nya so-so, di Mercure salah 1 staff receptionist nya bahkan orang bule. Orang jepangnya pun Inggrisnya bagus banget. Kalo di Ibis staff nya pake polo shirt, di Mercure staff nya pake jas dan dasi. Ambience hotelnya pun juga beda. Walaupun hotel tua, tapi lagi-lagi maintenancenya sangat bagus jadi semua juga masih dalam kondisi bagus.

Ukuran kamarnya besar, jauh lebih besar dibanding Ibis,padahal sama-sama kamar dengan twin bed. Amenities nya juga lebih lengkap dibanding Ibis. Ada mini bar nya juga. Trus tiap hari dapet complimentary mineral water 2 biji. Hanya memang furniture nya desainnya uda ketinggalan jaman. Disitu masih ada alarm clock loh, dan saklar lampu masih di meja kaya hotel jaman dulu (bukan saklar di dinding seperti pada umumnya). Tapi memang semua dalam kondisi bagus

Di mercure kita dikasih baby cot. Walaupun ga kepake untuk Axel tidur tapi minimal bisa jadi ‘kurungan’ selama kita beres-beres dan ga mau dia ngegeratak hahaha. 

Oya baik di Ibis maupun Mercure, untuk channel TV nya itu banyakan TV lokal loh. Paling cuma ada BBC aja kalo ga salah. Biasanya kan hotel brand international gitu TV channel nya juga international, tapi dari 2 hotel yang saya nginep, hampir ga ada channel internasionalnya. Yang pasti ya ada macam disney channel atau Nickelodeon. 

Karena nginepnya pake complimentary stay kita ga dapet breakfast. Dan ga bayar untuk breakfast juga, karena kita mau breakfast di luar aja. Di samping hotel ada McD. Ga jauh dari situ juga ada Starbuck, Family Mart, 7-11 dan Lawson. 

Di bawahnya hotel itu terhubung sama station subway Ginza 1 chome yang dilewatin oleh Yurakucho Line (Tokyo Metro), tapi line ini ga terlalu guna untuk turis, karena ga lewatin tempat-tempat turis. Tetep lebih baik jalan kaki dulu ke Ginza station baru naik train darisana, lebih banyak pilihan. 

Tapi ternyata Yurakucho line ini bisa dipake untuk ke Disney Resort, jadi untung banget kita nginep disitu. Dari Ginza 1chome tinggal naik Yurakucho line sampe shin chiba. Kemudian transfer ke Keio line sampai Maihama station untuk kemudian naik Monorail ke Disney resort. Kalau ga kita harus balik ke Tokyo station dulu untuk naik Keio line. God is good. Sesuatu yang kita kira ga berguna ternyata bisa sangat membantu.

Soal service, Mercure Ginza lebih oke dibanding Ibis shinjuku. Mungkin karena kemampuan komunikasi yang lebih baik. Sebelum sampai Tokyo (dari jauh-jauh hari malah), saya uda email mereka untuk minta advice soal transportasi dari narita dan ke narita. Sempet bolak balik email malahan. Dan mereka jawabin dengan baik. Sampe kirimin map segala. Poin plus banget buat Mercure Ginza

Jadi sekedar tips nih, kalau lagi planning ke Jepang dan ada hal yang bikin kalian bingung dan ga tau mau tanya siapa, coba aja tanya ke hotel, siapa tau mereka bisa jawab. First impression saya sama orang Jepang ini mereka ramah-ramah dan sangat helpful, terutama kepada turis. 

Satu hal lagi yang bikin kita hepi adalah, karena kita member Accorplus, kita dapet fasilitas late check out secara free dan welcome drink. Welcome drink kita ga pake sih,tapi late check out ini guna banget. Terutama pas hari terakhir sebelum balik ke Jakarta. Karena flight kita sore, pagi dan siangnya masih sempet jalan-jalan sama belanja oleh-oleh kemudian baru packing dan berangkat check out. 

Overall saya puas banget nginep di kedua hotel Accor ini. Berasa ga rugi beli Accorplus membership. Thank you Accor!

Btw saya baru sadar saya ga punya foto di hotel mercure sama sekali. Pas sampe uda terlalu lelah abis geret-geret koper,abis itu kamar uda berantakan haha. Jadi yang penasaran sama bentuk kamarnya silahkan google ya. 

Golden Bird (Jakarta)

Nah kalo ini saya mau review sedikit soal transport kita di jakarta, dari airport ke rumah. Jadi kita tiba di Jakarta tengah malam. Karena ga pernah sampe Jakarta jam segitu, kita bingung pulang kerumah gimana. Bisa si naik taksi, tapi ngebayangin ngantri taksi tengah malem gitu kan males ya. Pasti uda cape banget. Setelah tanya-tanya, tante saya rekomen sewa Golden bird aja. Ternyata bisa untuk 1 trip aja. 

Jadilah saya telp Golden bird dan book untuk tanggal saya pulang. Harganya cukup reasonable, 260 ribu sudah all in, termasuk uang tol juga. Kalo dibanding Blue Bird aja uda ampir 200 sama uang tol,pajak bandara dll. Mobilnya Avanza (tapi pas hari H dapetnya Inova). 

Reviewnya ok. Menurut saya sebanding antara harga dan yang didapet. Apalagi itu uda tengah malem, jadi ga usah pusing-pusing lagi. Sampe bandara tinggal ke counter golden bird dan kemudian langsung dianter ke mobilnya. Ini juga bisa jadi opsi kalo pergi ramean atau bawa banyak barang. 

Modem WiFi – Wi2Fly

Terakhir di post ini, saya mau review modem wifi yang saya sewa dari Wi2Fly. Awalnya saya tau Wi2Fly dari temen saya yang sewa disitu pas dia ke Jepang, dan dia bilang review nya oke, bahkan lebih oke dari modem Wifi yang dipinjemin sama airbnb. Jadi singkat cerita saya pesen lah di Wi2Fly. 

Sehari 2hari setelah saya pesen, Angela publish blog nya tentang liburan Jepang, dan disitu dia bilang kecewa dengan performance Wi2Fly serta servicenya,dan ga rekomen untuk sewa disitu. Nah loh langsung galau deh saya. Apa mau minta refund ya, mumpung masih bisa.

Tapi abis itu saya sibuk sama urusan kantor, jadi ga sempet ngurusin itu. Sampe akhirnya uda mepet mau berangkat dan ga mungkin sewa tempat lain lagi. Akhirnya saya telp Wi2Fly aja untuk kasih tau concern saya, intinya sih minta tolong modem yang dikirim bener-bener dalam kondisi baik. Respon CS nya sih ok ya. 

Mungkin gara-gara saya telp, saya uda terima modem wifinya 2 hari sebelum berangkat. Padahal biasanya mereka kirim 1 hari sebelum berangkat. Good service, karena jadinya saya punya waktu untuk tes baterainya dan pastiin modem nya bisa berfungsi. 

Review saya, kita puas dengan Wi2Fly. Baterenya awet bisa sampe 8 jam, malah HP saya abis batere duluan sebelom modem. Koneksinya cukup stabil,kecuali kalo lagi di basement (which is understandable). Service nya juga baik. Barang diantar dan dijemput tepat waktu (pake grab parcel). Proses refund juga cukup cepat dan ga berbelit-belit.

Jadi mungkin sewa wifi ini ada faktor hoki-hokian juga ya. Mungkin waktu Angela pas lagi ga hoki aja jadi dapet device yang ga gitu oke, dan pas-pasan lagi highseason jadi mereka overload. Well no excuse si sebenernya kalo soal ini. 

***

Fiuh! Sekian general information mengenai trip Jepang kita. Di postingan selanjutnya saya baru akan cerita detail per hari ya. Btw minta masukan donk, mending saya bikin postingan khusus untuk review makanan Jepang atau jadi satu aja sama cerita sehari-harinya?

Semoga berguna ya informasi di atas! Kita suka banget sama Jepang. Pengen balik lagi kesana buat ke kota-kota lainnya. 

Oya ini itinerary kita selama di Jepang :

Day 1 (Fri) : shinjuku

Day 2 (Sat) : shinjuku, shibuya,harajuku

Day 3 (sun) : akihabara, shinjuku

Day 4 (mon) : tsukiji, asakusa, sensoji temple, ginza

Day 5 (tue) :  sugamo (tsuta ramen), nakano broadway, nakano central park, ginza

Day 6 (wed) : disneysea

Day 7 (thu) : disneyland

Day 8 (fri) : tsukiji, daiso harajuku, narita

***

See you on the next post!

Salah satu ‘must buy item’ di Jepang : payung transparan

26 thoughts on “Japan (tokyo) trip 

  1. Kalau gw lebih suka hari per hari campur semua dari bangun tidur pagi sampe malem tidur lg hahahaa jadi lebih enak bacanya dan mengalir dari pada penggal penggal, kalau makanan doang kaya food blogger tar …

  2. cerita per hari aja… jadi berasa kayak ikutan kesana hehehe…

    pockit emang the best sih kalo buat gua… emang buka tutupnya kudu pake dua tangan, tapi begitu dilipet, ga banyak makan tempat… uda gitu jayden selama di bali betah banget duduk disana… padahal kalo di jakarta mah boro2, duduk sebentar trus minta turun lalu lari2 hahahaha…

  3. Hello, Mbak, aku stumbled di blog ini waktu lagi google2 soal liburan ke Jepang. Really love your post, informatif dan seru bacanya 🙂

    Aku salah satu yang galau berat soal milih Disneyland atau Disneysea, dan cuma bisa milih satu hiks

    Kalau boleh request nanti detail buat Disneyland sama Disneysea doong hehe

    Looking forward your next post Mbak 😀

    1. Hello. Salam kenal ya. Kalo galau soal disneyland coba baca blog nya TDR explporer deh. Gw tdnya mau ksh link di postingan tp kynya ketinggalan hehe. Sipp nanti pasti dibikin postingan detailnya. Tp ditunggu ya,antriannya masih panjang soalnya itu hari terakhir hehe. Wah senangnya planning liburann..

  4. Cerita per hariii 🙂
    Thank you, aku ada rencana ke Jepang awal tahun depan, galau milih hotel atau airbnb, galau nyewa pocket wifi (nah ini galaunya beranak jadi nyewa di Indo atau di Jepang aja hahaha) atau sim card, akhirnya lumayan ada pertimbangan setelah baca postingan ini. Ditunggu cerita selanjutnya 🙂
    https://felicioous.blogspot.co.id/

    1. Sesungguhnya kebahagiaan seorang blogger adalah kalo ada yg bilang tulisannua berguna. Jadi ga berasa sia2 nulis panjang lebar hahaha. Beli lah tantri.. biar ada alesan jalan2 *eh hahaha

  5. Per hari aja dea postingannya …gila detail pake bgt gw berasa lg lu duduk disebelah jelasin info ttg jepang wkkwkwkw detail abis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s