life

Moving

Tahun 2021 ada perubahan cukup besar dalam hidup kami. Tahun ini kami pindah rumah. Rumah, yang sebelumnya merupakan rumah masa kecil saya, akan saya tinggalkan. Setelah tinggal di lingkungan ini selama 30 tahun lebih, akhirnya tiba saatnya saya harus move on.

Berat? Awalnya iya. Awalnya mikir mau pindah aja uda bikin mellow. Terngiang-ngiang ending Reply1988 ketika Ssangmundong ditinggalkan penghuninya satu persatu. Dan tiba-tiba scene itu jadi sangat realistis. Terlalu banyak kenangan, dari masa kecil, remaja, sampe masa-masa di awal pernikahan saya sampe sekarang tinggal di rumah tersebut.

Tapi sekarang saya berusaha ga mikirin memori-memori itu. Supaya ga sedih. Supaya ga berlarut-larut. Saya mencoba membayangkan lingkungan lebih baik untuk anak-anak, dan tinggal di tempat yang lebih baik. Sesuatu yang harus disyukuri.

Dan Tuhan baik, Dia tau saya berat untuk menerima hal baru, apalagi perubahan besar kaya gini. Tuhan membuat segala prosesnya pelan tapi pasti. Hingga saya pelan-pelan bisa meresapi dan menerima kalau saya harus move on, dan itu adalah untuk hal yang lebih baik.

Jadi, rumah ini dibeli dari beberapa tahun lalu, dengan mencicil DP. Karena ga sanggup untuk bayar DP, kami memilih rumah yang ada fasilitas cicilan DP. Waktu beli rumahnya, sejujurnya kami ga tau akan ditempati ato engga. Kami suka rumahnya, lingkungannya, tapi untuk pindah, saat itu belum tau.

Mendekati serah terima rumah, tiba-tiba Utin dapat tawaran pekerjaan di daerah yang lebih dekat dengan rumah baru. Rumah lama kami memang cukup jauh dengan rumah baru. Jadi logikanya, jika utin menerima pekerjaan baru tersebut, kami harus pindah, supaya lokasi kantor tidak terlalu jauh.

Dan timing tahun nya pun pas dengan Axel naik ke SD, jadi memang bisa cari sekolah baru tanpa rugi bayar uang pangkal dobel. Sekolah online juga sangat menolong kami untuk bisa tetap sekolah di sekolah lama sampai benar-benar pindah. Karena kalau sekolah tatap muka, jarak ke sekolah lama dan rumah baru akan jadi jauh sekali.

Padahal Rumah tersebut tadinya mau dijual, karena waktu itu awal pandemi, semua bisnis sulit, dan kami ga tau apakah sanggup untuk masuk KPR.

Tapi Segala “kebetulan-kebetulan” menjadi “tanda” kalau emang Tuhan pengen kami pindah. Karena kami percaya bahwa tidak ada yang kebetulan. Semuanya uda diatur oleh Tuhan – with a very perfect timing. God is great. He never fail to amaze me.

Ketika Tuhan punya rencana, Dia juga yang akan melengkapi. Begitupula dengan kami. Dia memberkati kami dengan cukup, sehingga bisa membiayai renovasi minor, mengisi rumah, dan juga untuk mencicil KPR dengan biaya-biaya embel-embelnya yang bikin sakit kepala. Sungguh ga masuk logika kami kalo dipikir-pikir. Semuanya memang cuma karena berkat dan anugerah Tuhan. He is our Provider.

Rumah ini bisa dibilang adalah rumah pertama kami, karena baru dirumah ini kami bisa benar-benar mendesain dan mengisi sesuai keinginan kami. It’s our dream home and it’s like a dream come true.

Dalam prosesnya, banyak gesekan dan tantangan, khususnya dalam hubungan saya dan Utin, tapi itu menjadi hal yang pada akhirnya kami syukuri, karena membuat kami jadi lebih mengenal satu sama lain.

Hal lain yang memberatkan saya adalah saya harus jauh dari orangtua saya. Cukup berat, karena dari awal menikah kami tinggal dekat dengan orang tua saya, dan mereka banyak membantu saya. Pindah rumah membuat saya merasa jauh, dan tidak bisa bergantung lagi sama mereka. Tapi ya memang sudah saatnya untuk mandiri, karena gimanapun juga ga akan bisa minta bantuan orang tua terus-terusan, karena mereka juga uda tambah tua. Saya cuma berharap semoga mereka ga kesepian, dan selalu sehat.

Proses pindah rumah ini merupakan proses yang cukup berat buat saya. Tapi, melalui ini saya belajar dan diingatkan akan banyak hal. Nulis tentang hal ini juga bikin saya makin sadar betapa baiknya Tuhan. He is truly our provider.

Thank you God for loving us. For loving me.

Im ready to embrace a new chapter of life with a grateful heart.

5 thoughts on “Moving

  1. Hai deaa, selamat yaaaa. Happy for you. Iya bener banget dulu waktu pindah ke apartemen, juga kaya sedih berpisah sama lingkungan kita kecil. tapi tau2 keadaan gua harus nitip anak juga, (yang mana bolak balik juga), akhirnya gak jadi sedih. wkwkwkwkww.

    semangat dea, elo pasti dimampukan Tuhan juga buat melaluinya.

  2. Berbeda dengan elu, gue malah dulu bertekad, habis nikah harus pisah rumah dari ortu hihihi. Tapi nyokap saat itu stress, ended up gue nemenin dia dulu 1 thn sblm pisah.

    Selamat nempatin rumah baru ya Dea. Kiranya makin banyak berkat di tempat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s