life

Ketika semua #dirumahaja karena pandemi Covid19

Sejujurnya, saya cukup parno dengan wabah covid19 ini. Awalnya biasa aja, tapi dengan bertambahnya confirmed case, sekolah-sekolah yang diliburin, ibadah minggu ditiadakan, work from home, kekhawatiran saya bertambah.

Ketika khawatir, sangat gampang hal negatif menguasai pikiran. Apalagi yang terpampang hampir setiap saat melalui sosial media, televisi, pembicaraan adalah kasus covid19 yang makin meluas. Berita mengenai artis (seperti Tom Hanks dan istri), atlet (pemain bola, NBA), pejabat pemerintah (menhub, istri PM Canada) yang juga positive terkena Covid19 makin menambah kekhawatiran, tidak ada yang “kebal” terhadap virus ini. Jadi ingat Thanos, yang ketika bikin orang ilang semuanya ya random aja, ga ada pattern tertentu. Mungkin kaya seleksi alam (?)

Dan ketika terlalu banyak pikiran lalu lalang di otak, bikin cemas berlebih, selain berdoa dan baca renungan, saya kembali ke hobi yang sempat terlantar : menulis. Sekaligus jadi kenangan, ketika suatu saat pandemi ini lewat, saya punya catatan mengenai ini. Tahun 2020 memang diawali dengan berat, dan hampir seluruh dunia merasakan dampaknya, tapi saya percaya, this too shall past. God is in control. And He is good and full of mercy.

Hari ini adalah hari ke-4 Axel belajar di rumah. Dan Utin kerja dari rumah juga. Sebenernya bukan perubahan besar, karena Axel masih KB, yang ga perlu khusus ngejar pelajaran tertentu. Sekolah Alkitab Sahabat Kristus juga diliburin, dan ada “tugas” dirumah juga, tapi lagi-lagi bukan hal besar.

Perubahannya paling jadi masak lebih sering aja, karena ga makan di luar jadi harus masak terus. Tapi sebenernya kita masih kadang pesen gofood/grabfood si, walo ga sering. Tapi emang saya tiap hari juga masak, jadi ya bukan masalah juga

Perubahan lain, saya jadi lebih “rajin” ajarin Axel. Kalo dulu saya ajarin Axel kadang-kadang aja (karena ada sekolah) sekarang diusahakan ada jam khusus belajarnya. Walo namanya “belajar” anak KB ya masih sambil main juga. Cara Axel belajar adalah pake buku wipe n clean, belajar nulis, belajar tracing, dll. Mewarnai, menggunting, menempel. So far dia belom bosen sih. Kalo uda bosen nanti saya harus cari materi baru berarti haha.

Perubahan lain juga, saya lebih sering ajak anak-anak jemur. Termasuk Utin juga. Karena belakangan emang banyak yang bilang pentingnya kena matahari, bukan cuma buat anak, tapi dewasa juga. Sebenernya Axel batuk dari 2 minggu yang lalu, obatnya uda abis dari minggu lalu tapi belum sembuh. Puji Tuhan belakangan uda membaik, mungkin karena jemur dan minum vit D.

Sebenernya saya cukup menikmati waktu #dirumahaja ini. Bukan hal besar buat saya, mungkin karena sisi introvert saya makin besar sejak menikah haha. Selama dirumah bareng keluarga, ada akses internet dan makanan, saya hepi-hepi aja. Anggep aja kaya abis melahirkan harus sebulan dirumah ga kemana-mana haha. Axel juga sejauh ini hepi-hepi aja. Awal-awal masih suka tanya kenapa ga ke mal, tapi sejak semua dirumah, dia ga minta lagi. Sepertinya asal ada papa mama dirumah dia seneng-seneng aja. Ya tapi moga-moga wabah ini ga lama-lama, ga tau juga kita bisa bertahan tanpa bosen berapa lama.

Kalau mau menjabarkan kekhawatiran, bisa-bisa postingan ini akan panjang sekali. Jadi saya mau coba tulis hal-hal positif dari self quarantine dan social distancing ini.

Saya bersyukur bisa lebih banyak waktu bersama keluarga. Agak miris sebenernya waktu baca berita angka divorce di China meningkat karena lock down, makin sering ketemu bukan malah tambah mesra malah tambah ribut. Moga2 kita yang disini bisa tambah mesra sama pasangan dan anak-anak berkat waktu yang lebih banyak di rumah. Hopefully self quarantine increase more quality time with family.

Saya bersyukur lebih banyak dirumah jadi bisa lebih irit. Minimal ga ada ongkos bensin dan parkir. Ada sih pesen makanan di luar beberapa kali, tapi itu tetep lebih kecil dibanding makan di luar

Saya bersyukur masih ada akses internet dan hiburan. Tetep bisa bergaul di dunia maya, belajar, ibadah dan bekerja. Kalo ini terjadi 10 tahun lalu dimana internet belom kaya gini mungkin akan lebih bosen.

Saya uda mulai berasa “too much” dengan social media dan berita-berita negatif nya, dan lagi mempertimbangkan untuk “puasa” sosial media aja, supaya bisa lebih fokus sama hal positif. Mendingan nonton tv series aja deh haha. But we’ll see.

Jadi, tetep semangat ya semuanya! Always try to see the positive side. Mari sama-sama berdoa supaya bisa lebih tenang, ga panik berlebih, dan semoga wabah ini cepat berlalu. Aku uda kangen liburan hiks

4 thoughts on “Ketika semua #dirumahaja karena pandemi Covid19

  1. De, udah kebayang elu tipenya melankolis, pasti kalau lagi wabah gini, bawaannya tambah sedih. Semoga semua cepet berlalu, dan semoga orang di Indonesia makin tertib dan mikirin sesamanya. Pusing baca berita dari Indonesia kok kayaknya orangnya pada ndableg semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s