marriage life

Not my superhero anymore

Waktu masih abege, saya pengen punya pacar yang kaya superhero. Entah kebanyakan nonton film superhero atau kebanyakan baca novel, tapi rasanya jadi pacarnya superhero itu asik, bisa ada yang selalu ngelindungin, dan serba bisa.

Bad boy juga punya daya tarik sendiri. Banyak cewe yang suka bad boy tapi ga mau sama cowo brengsek (haha) termasuk saya. Mungkin ini sebabnya banyak yang tergila-gila sama (tokoh) Dilan. Cowo bandel tapi pinter dan baik (sama cewenya) yang rela ‘ngebakar’ sekolah demi belain cewenya (duh), memang tipikal cowo idaman cewe-cewe seumurannya. Eh tapi saya ga suka Dilan, terlalu lebay buat saya. Tapi mungkin juga karena saya nontonnya sekarang ya. Kalo nontonnya dulu pas abege mungkin saya juga suka.

Waktu ketemu Utin dan awal-awal pacaran, saya sangat kagum sama dia. Buat saya dia sangat bisa diandalkan dan serba bisa. Ga banyak cowo yang saya kagumi di kehidupan nyata, tapi Utin beda, dia bener-bener outstanding di mata saya (ya mungkin itu jodoh juga ya haha).

Karena kekaguman saya sama dia, secara ga langsung saya menjadikan Utin sebagai superhero saya. Bukan seperti deskripsi superhero di film-film, tapi superhero versi saya.

Tapi setelah menikah dan setelah makin lama kenal dia, pandangan saya mulai berubah.

Banyak hal yang bikin saya kecewa. Kok bisa ya dia kaya gini, kok bisa ya dia kaya gitu. Sepertinya Utin bukan Utin yang dulu lagi. Bukan Utin yang saya kenal dulu pas awal pacaran.

Gara-gara ini kita seringkali berantem. Terutama setelah ada Axel, ketika komunikasi makin susah, salah paham makin sering terjadi.

Sampai suatu saat saya disadarkan, bukan salah Utin nya, tapi salah ekspektasi nya. Ekspektasi saya.

Ketika saya secara ga sadar menjadikan dia sebagai ‘superhero’, saya menaruh harapan tinggi terhadap dia. Akibatnya, ketika dia ga sesuai ekspektasi saya, saya kecewa. Karena saya uda punya ‘standard’ tertentu terhadap dia. Padahal Utin juga sama seperti saya,manusia biasa,yang banyak kekurangannya.

Kalo di film, superhero adalah superhuman, tapi itu adalah bikinan manusia. Sama juga kaya novel, semua adalah bikinan manusia,dan sering semua itu ga realistis. Film sama novel emang sengaja dibikin untuk menjual mimpi (terutama cewe nih) dan sebagai ajang untuk lari dari kenyataan. Menciptakan image tertentu terhadap pernikahan / romantisme, yang kenyataannya tidak sesuai dengan dunia nyata. Ya kalo sesuai dunia nyata ga laku lah ya film dan novel hehe.

Manusia adalah manusia biasa penuh kekurangan. Tapi manusia ciptaan Tuhan. Ketika Tuhan menyatukan pria dan wanita dalam pernikahan, Tuhan pasti punya rencana untuk kedua pria dan wanita itu bisa saling melengkapi dan saling membangun. Kalau salah satunya uda sempurna, buat apa butuh pasangan lagi? Justru karena kita manusia penuh kekurangan, kita butuh pasangan kita untuk menolong kita. Makanya dibilang penolong yang sepadan.

Dan seperti biasa, resep paling ampuh adalah bersyukur. Daripada melihat kekurangan, lebih baik berfokus pada kelebihan. Selalu ada langit di atas langit. Jadi ada baiknya kalau kita jangan selalu melihat ke atas.

Terlepas dari semua ekspektasi saya terhadap Utin, dia adalah suami terbaik buat saya. Kalau saya bisa ngulang dan disuru milih lagi, saya akan tetap pilih dia jadi suami saya. And he would do the same for me.

People change and so does he. Maybe he is not the same utin as i used to know. But he is a better version of himself now, more mature and tougher. Struggle and problems make him (even) wiser. But one thing that never change, he always put God first and always strive the best for his family, our family.

My dear husband, thank you for always being there for me and always work hard for our family. I always proud of you and always support you. I pray that God always bless our family and help us to understand each other better each day. ❀

32 thoughts on “Not my superhero anymore

  1. Iyaaaa de gue bacanya juga sambil mesem2 hahahaha. Jadi reminder jg nih buat gue mendingan banyak2 bersyukur daripada expect yang kejauhan yah..

  2. Bener banget De, kadang ekspektasi kita yang bikin suami jadi terlihat “jelek” di mata kita. Padahal mungkin kalo dibandingkan sama banyak suami brengsek di luar sana, suami kita mah udah Puji Tuhan banget yaaa hehehe

  3. so sweettttt deaa. tapi bener. kadangnya kita lebih gampang sering liat kejelekan, krn kita expect laki tuh harusnya gini.. harusnya gituu.. padahal mah kita juga kalo dimata suami ya juga banyak kurangnya juga yaaa..

  4. Seiring berlalunya waktu manusia akan berubah ☺
    Setuju sm cici yg lebih baik bersyukur, kl perubahannya negatif jgn lupa saling mengingatkan *self reminder juga buatku πŸ˜…

  5. De bener kadang kita pasang ekspetasi ketinggian ke suami yang mana saat ndk terjadi kita jd kecewa berat padahal mah suami biasa2 aja…ndk berubah jg, tp kitanya yg sejak nikah jd nuntut berlebihan ya
    sweeet banget dea

  6. gw kesentil deaaa.. gw juga sering berharap banyak banget sama laki gw. pinginnya pulang kerja dia main sama miles, bantu tidurin miles, bantu ini itu padahal kan dia juga cape yaa hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s