indonesia

For a greater good

.. I Hope!

Kalau ada yang nebak ini tentang drama pilkada, yes anda benar sekali! Walau pasti uda pada bosen, I’m writing this for myself. To remind me and my children, that Jakarta has a great governor once. Pak Ahok ini, dengan haters dan lovers nya, adalah suatu fenomena yang perlu dicatat di blog. Dan Pilkasa 2017 ini dengan segala drama nya, membuat saya belajar tentang beberapa hal.

Pilkada 2017 ini adalah Pilkada yang paling drama buat saya (dan mungkin buat jutaan penduduk jakarta lainnya). Baru kali ini saya bener-bener ‘jagoin’ seseorang, dan bener-bener berharap dia menang, tapi harus terima kenyataan kalau pilihan saya kalah. Kalau di Pilkada bahkan Pilpres sebelumnya biasanya saya ikut majority dan hampir selalu pilihan saya menang, ataupun kalau kalah juga saya ga ambil pusing.

Baru di Pilkada 2017 putaran 2 ini, sehari sebelum Pilkada perasaan saya campur aduk, saya berdoa supaya besok saya bisa terima apapun hasilnya (karena uda punya feeling bakal kalah), karena jujur saya benar-benar ga rela kalo harus ganti gubernur. Bener tuh tulisan di salah satu papan bunga, rasanya (mungkin – karena ga pernah ngalamin) seperti pacaran lagi sayang-sayangnya tapi harus putus karena ga disetujuin orang tua karena masalah agama. Dan perasaan itu yang harus saya hadapi di tanggal 19 April 2017 yang lalu. Ga rela. Ga terima. Pengen nangis tapi ga bisa.

Yang paling saya ratapi adalah, kenyataan kalau segala bentuk kampanye negatif, isu SARA, intimidasi, berhasil memenangkan pilkada. Demo besar-besaran atas nama agama itu berhasil mendapatkan tujuannya. Tadinya saya masih berharap warga Jakarta bisa lebih netral, memilih berdasarkan hasil kerja dan program, bukan karena agama atau suku. Tapi ternyata saya salah. Terutama selama masa Pilkada, saya harus tebal kuping dan pasang kaca mata kuda melihat dan mendengar agama dan suku saya secara terang-terangan dihina di depan umum, pakai pengeras suara, atau ada di spanduk di tempat-tempat umum. Tuhan (saya) memang tidak perlu dibela, Dia bisa membela diriNya sendiri. Tapi salah apa kami, sampai segitu dibencinya? Saya sungguh sedih, harus terima nasib jadi double minoritas di Jakarta (Indonesia). Merasa dimusuhi dan ga diterima oleh saudara sebangsa saya sendiri. Agama memang pilihan saya, tapi suku? Itu kan bukan pilihan saya. Merasa seperti orang buangan, di negara sendiri dianggap ‘pendatang’, di China pun ga dianggap. Kalahnya Ahok seperti mengkikis harapan saya terhadap nasionalisme, bhinneka tunggal ika dan kebebasan beragama di Jakarta (Indonesia).

Pilkada kali ini juga bersejarah karena membuat saya sadar kalau dalam politik semua bisa berubah. Awal Pilkada, ketika tau Anies Baswedan jadi salah satu paslon, terus terang saya senang. Saya sampe bilang, kalau sampe Ahok kalah pun saya rela, karena di mata saya Anies adalah salah satu tokoh yang saya kagumi juga. Di tahun 2014 saya sempet tulis gini,

2. Kalau kamu bisa memilih siapa saja dan dari partai apa saja secara random, siapa yang akan kamu pilih sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia?

Ini di luar capres dan cawapres yang ada ya. I will vote for Anies Baswedan & Ahok. Saya gatau sih mereka bakal cocok atau engga kalau kerja bareng, tapi selain Jokowi, hanya 2 orang ini yang bikin saya melihat adanya harapan buat Indonesia.

Betapa kecewanya saya ketika seiring dengan berjalannya waktu, Anies menunjukkan preferensinya ke golongan ekstrimis. Buat saya yang minoritas, gestur ini sangat menakutkan.  Bagaimana nasib kami, para kaum minoritas, ketika paslon (yang sekarang menjadi gubernur terpilih) merangkul golongan ekstrimis? Golongan yang secara terang-terangan menghina, melecehkan agama dan suku kami di depan publik.

Tapi itulah politik. Segala sesuatu bisa berubah. Bukan ga mungkin, seorang Ahok yang sekarang saya kagumi dan tangisi kekalahannya juga di masa depan jadi seseorang yang saya antipati. Who knows.

Disini saya belajar untuk tidak mengagung-agungkan manusia. Sebaik-baiknya manusia, dia masih human being yang sangat mungkin salah. Dan saya belajar untuk tidak menggantungkan harapan saya pada manusia. People change.

Terlepas dari semua itu, seorang Ahok memang sosok langka yang membuat sejarah. Baru kali ini saya punya gubernur yang saya cintai dan doakan dengan sungguh. Baru kali ini Pilkada segitu dramatisnya. Baru kali ini banyak orang rela pulang ke Jakarta demi bisa nyoblos. Baru kali ini ketika ga bisa nyoblos jadi satu masalah serius. Baru kali ini saya liat kerja nyata dari seorang pejabat publik, yang hasilnya langsung saya rasakan. Baru kali ini orang berbondong-bondong kirim papan bunga ke balaikota, sampai ribuan jumlahnya. Baru kali ini balaikota jadi ‘tourist attraction’, dimana orang berbondong-bondong kesana untuk bisa foto bareng beliau, sampe rela desak-desakan (udah kaya lagi nonton konser yak). Ahok memang kontroversial. Penghujatnya ga kalah banyak dengan pemujanya. Dan dua-duanya sepertinya sama-sama garis keras haha. Ga heran banyak orang susah move on dari hasil (quick count) Pilkada kemaren.

Dan setelah lewat masa-masa galau ga terima kenyataan, saya akhirnya bisa berpikir dengan lebih jernih, dan menerima kalau memang lebih baik Ahok ga lanjut jadi gubernur DKI. Kenapa?

  • Karena segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan YME. Jabatan itu titipan Tuhan. Kalau Tuhan berkenan, pasti dikasih. Kalau ga dikasih ya jangan maksa. Tuhan pasti punya rencana, dan rencananya pasti lebih baik dari rencana manusia. Saya percaya, kalau emang Tuhan kasih jabatan itu untuk Ahok, mau dicurangin kaya gimanapun, mau ada demo segede apapun, mau diintimidasi kaya apapun, pasti akan tetap menang. Jadi ketika Ahok kalah, itu terjadi atas kehendak Tuhan.
  • (Semoga) kekalahan Ahok bisa meredam situatsiJakarta yang lagi ‘panas’. Majority still rules. Sadly but true. Demi kebaikan bersama, ada baiknya gubernur Jakarta bukan seorang yang kontroversial. Balik ke poin pertama, Tuhan bisa pakai segala sesuatu, siapapun itu, untuk rencana-Nya kok.
  • Mempertahankan lebih sulit daripada memulai. Ahok Djarot bagus di periode pertama, belum tentu hasilnya bagus juga di periode ke-2. Atau, belum tentu sesuai harapan di periode ke-2. Dan ketika ga sesuai harapan, berapa orang yang tadinya memuja yang kemudian kecewa dan membenci? Dikecewakan oleh seseorang yang tadinya kita kagumi itu lebih sakit loh. Apalagi pada dasarnya Ahok adalah seseorang yang kontroversial. Easy to love easy to hate. Lebih baik dia turun di saat prestasinya lagi bagus. Beliau bisa melanjutkan berkarya dan berkontribusi di bidang yang lain. And people will still look up to him.

Yah intinya sih, suka ga suka, terima ga terima, tetep kenyataannya nanti di bulan Oktober 2017 Jakarta bakal punya gubernur baru. Daripada sibuk menangisi dan meratapi, lebih baik banyak-banyak berdoa untuk Jakarta. Semoga Tuhan senantiasa memberkati Jakarta dan Indonesia. Semoga gubernur baru bisa menepati janjinya dan bisa membuat Jakarta lebih baik. Dan semoga program beli rumah dengan DP 0% nya beneran jadi hehehe.

Last but not least, thank you for your hardwork and servanthood leadership Pak Ahok & Pak Djarot! Cant wait to see more of you in the future! And congratulations to Pak Anies & Pak Sandi! Let’s work for a better Jakarta and Indonesia.

Keluarga besar saya ikutan kirim bunga papan
Advertisements

17 thoughts on “For a greater good

  1. Saya juga termasuk barisan patah hati… ikut sedih begitu dengar hasil quick count. Tetap berdoa utk Jakarta, semoga isu SARA ga ada lagi di bumi Indonesia.. jangan lupakan Bhineka Tunggal Ika.

  2. well said, mami axel! aku patah hatinya dobel! ga bisa pulang buat milih. sekarang tugas kita berdoa biar negara ini menjadi lebih baik dan banyak ahok – ahok laen yang muncul! amin!

  3. dari masuk putaran kedua gua juga uda feeling kalo persaingannya bakal berat… soalnya uda bawa2 isu agama kan… tapi ga nyangka aja selisihnya bakal jauh… dan ga nyangka juga gua bakal sesedih ini… tadinya uda move on, tapi ngeliat banyaknya karangan bunga buat ahok, jadi kayak ga rela lagi hahahaha…

  4. Baru gue nulis barusan, trs buka feedly eh ada tulisan dr lu jg. Yang ga asik memang cara kalahnya ya. Penuh intimidasi. Mana banyak yg ditakut2in kerusuhan. Males bangetttt… Ya udah, mari kita lanjutkan hidup masing2 hahaha.

  5. Gue suka mikir, mungkin dulu pendukung Prabowo patah hatinya kayak gini ya pas Prabowo kalah di pilpres. Karena ternyata sedih banget. :((( Tapi gue juga mikir, mungkin Tuhan udah mempersiapkan Ahok di tempat yang lebih baik. Sedih dan kasihan banget lihat dia dicap penista agama mulu soalnya. :((( Dan semoga kelompok ekstrimis ga merasa besar kepala dengan kemenangan Anies. Damai tenteram sentosa. Amin.

  6. Pernah terbesit dipikiran aku menyangka bakal dapet hasil yang kayak gini, Ci. Tapi tetep berharap kali aja bakal ada twist, tapi ternyata nggak. Kecewa iya, belum bisa move on iya, 2 hari aku sakit kepala gara-gara ga bisa move on.hahahaha
    Adik aku khusus pulang dari Bali cuma buat nyoblos. Tapi dengan kekalahan kemarin ga membuat aku dan keluarga menyesal udah dukung beliau berdua, karena mereka udah menciptakan standar yang tinggi dan memberikan secercah harapan. Ya semoga Jakarta ke depannya bakal lebih baik lagi.

  7. Lu nggak dateng ke Balai Kota Dea, sekalian kan udah pasti masuk sejarah dan lu menyaksikan langsung hehehe…

    Semoga kedepan nanti Indonesia bisa lebih baik lagi dan Jakarta pada khususnya

  8. dengan banyaknya demo, gw jd mikir lebih baik ahok kalah deh. Kebayang kalo dia menang, itu demo makin barbar dan menjadi2, bisa2 kembali ke thn 98 *amit2*
    Asli skrg gw takut loh jadi minoritas di indonesia. Pengen kabur rasanya.. tapi kemana?

  9. De, kalo gua lebih mempertanyakan.. kemana aja manusia yang selama ini ngeliat hasil kerja ahok. Karena isu ini kah, jadi orang “mengamankan” diri dengan tidak milih ahok. gua juga sedih, nelangsa gitu sih. kek gak nyangka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s