baby · motherhood

“If I had given him just one bottle, he would still be alive”

Did you know newborns aren’t supposed to cry all the time? They’re supposed to eat and sleep and dirty their diapers. I had no idea that he was inconsolable because he was starving – literally. And when a baby is only on the breast, how do we gauge how much they’re actually getting out? Sure, there should be wet and soiled diapers, and weight checks, right? And where is the limit as to weight loss and a minimum for the diapers changed?

Read the full story here

I found this story shared on my Facebook timeline. It was a really heartbreaking story, but do you know that it might happen to you? As a first time mom, I didnt now. And with not knowing I almost (or already) made my baby starved. Sadly but true.

Saya pernah cerita disini kalau waktu awal-awal lahir Axel nangis terus. Di saat bayi newborn lain harus dibangunin untuk minum, Axel malah susah tidur dan nangis terus. Saat itu saya kira itu wajar, namanya bayi ya pasti banyak nangis. Minimnya pengalaman saya dengan bayi lain juga bikin saya ga punya perbandingan, sebanyak apa tangisan yang wajar. Dan sama sekali ga pernah terlintas di pikiran saya kalau dia nangis karena lapar. Kan dia sering nyusu, sampai hampir 1 jam pula per sesi. Masa iya masih lapar?

Sebelum melahirkan saya juga banyak baca, ikut kelas laktasi, menanamkan pikiran positif kalau ASI pasti cukup. Kalau ada ibu-ibu yang bilang ASI ga keluar, pada awalnya saya kira karena si ibu itu ga cukup bertekad dan berusaha aja. So prejudice. So naive. Sampai saya sendiri mengalami hal yang sama. Dan akhirnya saya belajar menerima kenyataan kalau memang ga ada sesuatu yang mutlak di dunia ini. Kondisi tiap orang beda-beda, makanya sangat mungkin kalau ada yang bisa kasih full ASI dan ada yang harus boost dengan formula. Either way is ok, as long as the baby is fed.

Fed is best, sama seperti website tempat cerita di atas dikisahkan. Yang penting adalah bayi tidak kelaparan, bayi tercukupi kebutuhan nutrisi dan kalorinya. Mau diberi minum dengan ASI maupun sufor ga masalah, yang terpenting adalah bayi tidak dibiarkan kelaparan.

Beberapa hari pertama dalam hidup bayi sangat krusial, makanya ga boleh sampe dehidrasi. Karena dehidrasi bisa menyebabkan kuning (jaudince) yang bisa berujung pada kerusakan otak. Sedangkan di hari-hari pertama ini ga semua ibu cukup beruntung untuk bisa keluar ASI nya. Dilema memang, di satu sisi produksi ASI harus dirangsang dengan hisapan bayi. Tapi di sisi lain, kalau bayi ngenyot saja tanpa dapat air susu sama sekali bisa dehidrasi yang berujung fatal. Ini ada cerita lagi soal anak yang mengalami gangguan pada sistem sarafnya karena pada masa bayinya mengalami dehidrasi parah. Saya bukan nakut-nakutin, dan saya bukan pro formula atau tidak mendukung full ASI. Tapi saya hanya membagikan informasi yang saya dapat plus sharing pengalaman pribadi. Tujuannya biar para calon ibu di luar sana dapet informasi yang cukup supaya bisa menimbang dan memutuskan yang terbaik untuk bayinya.

Baca cerita Landon bikin saya sedihnya double, sedih bercampur rasa sesal, karena inget waktu awal Axel lahir. Untungnya di hari-hari pertama Axel saya mengikuti saran dokter untuk kasih formula, karena Axel ada masalah dengan pernapasan dan ga boleh digendong, jadi ga memungkinkan untuk disusuin. Kali ini saya bersyukur karena waktu itu uda ambil keputusan yang tepat. Paling ga Axel ga sampe dehidrasi.

Masalah datang justru ketika Axel uda dirumah. Sepulang dari RS saya bertekad untuk full ASI, makanya saya stop sama sekali formulanya. Tapi yang ada Axel makin lama makin sering nangis. Awalnya saya masih belum terima kalau waktu itu Axel nangis terus-terusan karena lapar. Saya masih denial, saya pikir dia nangis karena pengen ngempeng aja, dan banyak alasan-alasan lainnya. Tapi kisah Landon bikin saya benar-benar sadar akan kesalahan saya di awal masa jadi ibu, hanya karena ketidak tahuan saya.

Saya jadi ingat waktu awal-awal kontrol ke dsa, saya tanya ke dsa nya kenapa Axel nangis terus. Dan dsa nya bilang, “Ini mah bayinya lapar, Bu”. Yang kemudian berujung dengan konsultasi ke klinik laktasi dengan diajarkan berbagai metode pemberian ASI dan pada akhirnya dianjurkan untuk boost dengan formula.

Apa jadinya kalau waktu itu saya ga ke dokter untuk tanya kenapa Axel nangis terus? Mungkin dia akan semakin kelaparan, dan (amit-amit) bisa berujung pada dehidrasi dan kerusakan otak. Baca cerita Landon bikin saya nyesel, kenapa saya ga kasih formula dari awal. Kalau aja saya kasih formula lebih cepat, mungkin saya juga ga akan se-stress dan baby blues itu karena ketika bayi nangis terus-terusan efeknya bikin saya tambah stress., yang berujung ASI tambah seret. Kalau saja saya kasih formula lebih awal mungkin Axel akan tidur lebih pulas, yang berujung pada istirahat saya yang lebih baik, dan emosi saya yang lebih stabil. Saya bukan ga mendukung full ASI, tapi saya sangat sedih kalau inget waktu itu ternyata saya biarinin Axel kelaperan hanya karena saya ga mau kasih dia formula. Saya merasa gagal sebagai ibunya, yang ga peka terhadap kebutuhan dia. I wish i can turn back time.

Jadi harus gimana donk? Sekali lagi saya bukan ngajarin untuk mudah nyerah dan langsung kasih formula ya. Banyak baca, kelola semua informasi yang didapat, jangan telan mentah-mentah. Pastikan kamu tau semua resiko dari keputusanmu. Ga harus mainstream, yang penting kamu damai sejahtera dengan keputusan yang diambil. Namanya komentar mah selalu ada. Kamu bertanggung jawab sama Tuhan atas setiap keputusanmu, bukan sama orang lain atau lingkungan. Pray, and trust your instinct as a mom.

Saran praktis yang menurut saya berguna banget, pastikan bayi minum, bukan ngempeng. Bayi ngenyot payudara selama apapun ga akan kenyang kalo dia cuma ngempeng. Apalagi newborn gampang ketiduran, dan buat dia sangat comfort dekat dengan ibunya dan menyusu. Makanya ga heran ada bayi yang uda nyusu sejaman pas dilepas dari payudara tetep nangis lapar. Bisa lapar karena produksi ASI ga cukup, tapi bisa juga karena bayi hanya ngempeng tapi ga minum.

Jadi cara untuk memastikan bayi minum adalah dengan disuapin. Bisa dikasih botol susu atau disendokin buat yang ga mau kasih dot. Susunya juga bisa ASI perah (biar sekalian tau produksi ASI nya seberapa banyak) atau susu formula. Yang penting bayi minum, sehingga kebutuhan nutrisi dan kalorinya terpenuhi. Metode ini yang diajarkan pada saya waktu itu untuk boost berat badan Axel yang ga naik di bulan pertama. Dan puji Tuhan cukup efektif.

ASI memang yang terbaik untuk bayi. Tapi ASI ga mudah, perlu perjuangan, makanya ada istilah #pejuangASI. Momen menyusui indah, tapi memulainya ga selalu mulus. Jangan kecil hati kalau awal-awal belum bisa kasih full ASI. Pelan-pelan aja, terus diupayakan rajin pompa & menyusui, bukan ga mungkin setelah lewat beberapa hari, minggu, atau bulan, malah bisa full ASI. Karena prinsip ASI kan supply and demand, perlu proses untuk mencapai supply yang diinginkan. Sementara mengusahakan supply cukup, pastikan baby nya tetap mendapat nutrisi yang cukup ya.

Once again, fed is best. The most important thing is the baby is fed. ASI memang terbaik, tapi formula bukan racun. Know what best for your baby.

Happy motherhood! 😊

Flashback to skinny – 3 weeks old baby Axel
Advertisements

15 thoughts on ““If I had given him just one bottle, he would still be alive”

  1. Dea, bener banget. gua juga walaupun memang mendukung ASI. tapi kalo gua diposisi memang kurang asi, gua jg oke dengan sufor. atau kalo ada temen gua yang baru lahiran, trus tanya resep kenapa asi gua bisa banyak, pasti gua jawab jangan stress dan jangan ngoyo. kalau memang harus sufor ya udah.. jalanin. apapun jg baik.

  2. Gue pas hamil udah bilang ke diri sendiri dan suami, kalau ASI gue kurang, gpp bayinya pake sufor. Gue bakal usaha keras bayi dapat ASI, tapi paling utama kecukupan bayi, sih. Either itu ASI atau sufor, anak harus sehat dulu. Bukan soal yang penting ASI, tapi yang penting anak tercukupi. Mother knows best. 🙂

  3. iyap De, yang penting kebutuhan minum debay terpenuhi deh ya, entah itu ASI tow sufor. jgn terll idealis tow egois juga (menurut gue), kasian bayinya, huhuhuhu

  4. Pas cerita ini muncul mgg lalu di timeline FB gue, gue sempet komen ke situ, gue copas aja ya: “Jadi ibu2 mmg susah ya Cy. Social pressure suka keterlaluan. Makanya walaupun gue tau ASI bagus banget n bersyukur bisa ASIX, gue ga bakalan merepet ke ibu2 yg ga bs kasih ASI. Tapi kalo sampe ibu2 ga mau ksh ASI dengan alasan body nanti jelek, ngerepotin, pdhl sebenernya mampu dan bisa, itu baru gue sayangkan.”

    Gue kadang ngerasa dulu jaman ASI blm jadi “trend” org2 bisa lebih tenang krn no judgment. Giliran ngasi ASI digalakkan, ibu2 suka jd ngerasa ngga sempurna kalau ga ngasih ASI full dan ngerasa berdosa kalau ngga kasih ASI full. Jd ini bukan soal ASI is the best, baca2 buku dll, tp beneran society yg bikin banyak ibu2 justru lbh stress soal ASI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s