Uncategorized

A story about ‘Immanuel’

Arti Immanuel adalah ‘Tuhan beserta kita’. Dan itulah yang saya rasakan dalam kehidupan Utin, si penyandang nama ‘Immanuel’. Banyak yang bilang Utin itu banyak hokinya, tapi kalo buat saya, he is simply blessed, because God is with him, just like his name.

Contoh, lagi cari parkiran di mall yang penuhnya bukan main, eh tiba-tiba pas depan kita ada mobil keluar, jadilah kita bisa dapet parkir tanpa perlu susah payah. Plus tukang parkirnya bilang gini lagi,”Tuhan Yesus sayang sama bapak”. Contoh lain, pas baru masuk rumah, pas tiba-tiba hujan gede. Kalo telat 5 menit aja pasti keujanan. Pernah juga dadakan mau nonton film yang lagi happening di bioskop (lupa film apa). Alhasil dapet di row ke-2 dari depan. Pas udah duduk, tiba-tiba petugas dateng dan suru kita pindah ke row paling atas, karena di tempat duduk kita bocor. Dan masih banyak hal-hal lainnya yang kalo cerita ke orang pasti dibilangnya hoki.

Ga cuma ‘hoki’ dalam hal-hal kecil, tapi dalam hal-hal besar juga. Inget cerita gimana saya dan Utin bisa ketemu? Udah kaya sinetron aja. Soal kerjaan juga gitu. Utin sempet kerja di salah satu perusahaan mining yang cukup besar, karirnya cukup bagus disitu tapi dia pindah karena ada offer lebih baik, sekaligus supaya bisa S2. Ga lama setelah Utin pindah, harga minyak jatoh abis-abisan sampe itu perusahaan pecat-pecatin banyak banget orang. Gatau apa jadinya kalau Utin masih disitu.

Banyak kisah hidup Utin yang jadi bukti nyata kalo ‘Immanuel’ itu bener-bener terjadi dalam hidupnya. Dan yang mau saya ceritain disini adalah cerita perjuangan Utin sampe lulus S2.

Selama sekolah dan kuliah, bidang akademis bukan bidang yang bisa dibanggakan buat dia. Dan orang-orang yang kenal Utin pasti tau kalo dia bukan orang yang suka belajar formal. Kriteria dia pilih SMA adalah cari SMA yang ada lapangan futsalnya. Walaupun lulusan SMAK1 Penabur yang terkenal susah, dia adalah anomali disitu hahaha. Beda banget sama tipikal anak SMAK1 pada umumnya. Makanya pas mau ambil S2, banyak temen-temennya yang kaget. Jangankan temen-temennya, Utin sendiri aja masih suka amazed kenapa dia bisa sampe ambil S2, double degree lagi hahaha.

Sebelum mutusin untuk apply S2, sempet maju mundur apalagi pas pertimbangin mau double degree atau engga. Kenapa bisa ambil double degree, simply karena peminat lebih sedikit jadi chance diterimanya lebih gede. Dan selama kuliah pun targetnya ga muluk-muluk, yang penting lulus aja.

Kuliahnya ‘cuma’ 2 tahun, tapi yang ngejalanin berasanya ga kelar-kelar. Hampir tiap hari pulang di atas jam 9 malam, kadang bisa sampai jam 11-12, weekend juga sering diisi dengan belajar kelompok atau bikin tugas, atau bahkan kuliah. Belum lagi kalo dosen bule dateng, bisa dari Senin-Minggu full kuliah. Not an easy time for us.

Dua tahun kuliah bukan mulus-mulus aja, seringkali frustasi, ga cuma sama load kuliah, tapi juga sama birokrasi. Maklum ya, namanya universitas negeri sama swasta pasti beda. Dan yang paling sering Utin bilang adalah, “Ga lagi-lagi deh kuliah” hahaha.

Thesis yang diambil bentuknya business coaching. Jadi ada UKM yang harus di coach secara intensif selama beberapa bulan. Dan UKM yang Utin dapet adalah sebuah coffee shop di Bandung yang bernama Yellowblack. Karena bentuknya coaching, ada minimal pertemuan yang diwajibkan, berarti kita harus bolak balik ke Bandung.

Disinilah kita baru mulai ngeliat rencana Tuhan terhadap kehamilan yang gagal sebelumnya, dan betapa Tuhan uda ngatur segala sesuatunya. Januari – Mei 2016 kemaren adalah bulan-bulan sibuknya Utin, karena harus juggling antara kerjaan, bolak balik bandung untuk coaching, dan keluarga. Sedangkan due date kehamilan sebelumnya yang ga berkembang adalah Januari 2016. Ga kebayang gimana overwhelmed nya Utin di bulan Januari, kalau ada baby baru lahir, start business coaching, dan kerjaan. God is good and He has a perfect timing.

Puji Tuhan juga Utin dipertemukan dengan owner UKM yang sangat kooperatif. Sehingga proses coaching berjalan lancar, dan hubungan mereka masih baik sampai sekarang. Puji Tuhan juga dengan proses coaching ini Utin juga jadi belajar banyak hal dan dapet banyak masukan untuk perkembangan dirinya. Btw, sekalian promosi, buat coffee lover boleh main-main ke Yellowblack Cafe di jalan Cikutra (1 kompleks dengan hotel Bumi Kitri). Ownernya sangat passionate dengan kopi, dan turun langsung untuk bikin kopinya. Kopinya juga bisa by request sesuai mood (jadi ga harus sesuai menu), dan bisa sekalian diajarin cara bikin kopi. Kalo yang ngerti kopi sih katanya kopinya enak. Saya bukan pecinta kopi, jadi saya ga bisa bedain kopi enak sama kopi biasa aja hehehe.

Proses business coaching berjalan relatif lancar, penulisan thesis nya juga relatif lancar walau harus begadang-begadang . Untung Axel belom lahir kan, jadi masih bisa lebih konsen buat ngerjain thesis hehe. Utin ini beda sama saya, kalo saya lebih pede dalam hal tulis menulis, kalo Utin lebih pede dalam hal presentasi. Jadi kemaren ini dia paling stress selama penulisan thesis, tapi pas mau sidang dia mah kalem-kalem aja.

Then the unthinkable happened. Di sidang akhir Utin ‘dibantai’, bukan karena content, tapi simply karena para penguji ga baca thesis dan ga dengerin presentasi. Pertanyaan yang diajukan sangat basic dan mereka simply tidak sependapat dengan yang Utin presentasikan. Kalau bukan karena dibela dosen pembimbing, mungkin aja Utin harus sidang ulang atau bahkan ga lulus. Who knows.

Disitu kita belajar kalo segala sesuatunya memang karena kemurahan Tuhan semata. Walaupun kita yakin 1000% dan jago presentasi, tapi kalau Tuhan ga berkenan, bisa aja kita ga lulus juga. Apalagi sistem pendidikan di Indonesia dosen masih ‘berkuasa’ menentukan nasib mahasiswanya. Jadi ketika pada akhirnya thesis Utin dapet nilai A juga kita sadar kalo itu semua karena berkat Tuhan aja.

Kuliah selama 2 tahun ini memang banyak naik dan turunnya, banyak masalah dan drama nya, tapi melalui ini kita belajar banyak hal, terutama tentang penyertaan tangan Tuhan. Tuhan bisa menjadikan yang ga mungkin jadi mungkin. Tuhan bisa kasih lebih daripada yang kita minta.

Dan ketika pada akhirnya Utin bisa selesain S2 nya, ini message untuk kita kalo segala sesuatunya mungkin di dalam Tuhan. Utin yang pas SMA pernah ga naik kelas, yang nilainya tetep jelek walaupun udah belajar, yang diragukan bisa jadi auditor oleh guru akuntansinya, bisa selesain S2 double degree dengan predikat cum laude.

Tulisan ini dibuat bukan untuk menyombongkan diri, justru kebalikannya, untuk mengingatkan kami berdua betapa segala sesuatunya adalah karena pertolongan tangan Tuhan aja. Betapa Tuhan bisa menghancurkan kesombongan sesorang dalam sekejap, tapi juga bisa meningkatkan rasa percaya diri seseorang dengan hal yang tak pernah terbayangkan.

Dan perjuangan Utin selama S2 ini juga merupakan salah satu bukti tentang betapa Tuhan beserta dengan kita dalam segala hal. Makanya pas cari nama, kita ga ragu-ragu untuk masukin ‘Immanuel’ sebagai nama tengah. Doa kami, supaya Axel juga selalu inget bahwa Tuhan selalu besertanya senantiasa.

Sekali lagi congratulations Yustinus Immanuel, S.E., M.M., MBA. God is truly with you in everything you do.

wisuda utin
congrats hubby!

 

 

 

8 thoughts on “A story about ‘Immanuel’

  1. Selamat ya Utin n Dea. God is good all the time. Nah itu lah Dea, menurut gue, malah anak-anak yang model Utin ini, yang nggak terlalu dikekang di masa kecilnya, pas udah gedenya lebih bisa menemukan jati diri dan tekun di bidang yang disukai. Cousin gue juga ambil program yang sama kayak Utin, bbrp tahun lalu tapi lulusnya. Semoga sukes terus ya, dan si baby juga bawa banyak rejeki untuk kalian berdua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s