life

(Not) A Happy Ending Story (Yet)

Rencana posting liburan ke Lombok ternyata harus ditunda dulu dan diganti dengan postingan ini. Postingan yang tadinya uda disimpen di draft dari beberapa bulan yang lalu ternyata harus jadi draft seterusnya dan diganti dengan postingan ini. Memang manusia bisa berencana tapi tetap Tuhan yang menentukan. ****

The Surprise Gift from God

Awal Mei, saya dan Utin dikasih surprise sama Tuhan berupa 2 garis di hasil test pack, yang kemudian dikonfirmasi oleh dokter kandungan kalau saya hamil. Karena masih awal banget, dokter minta kami untuk kontrol 2 minggu kemudian untuk memastikan bahwan janin nya ada dan berkembang. Dua minggu kemudian kami ke dokter lagi di usia kandungan 6 minggu dan untuk pertama kalinya melihat seperti garis di layar monitor USG yang disebutkan dokter sebagai our baby. Dan untuk pertama kalinya dokter memperdengarkan denyut jantungnya. Walaupun saat itu saya ga ngerti gimana ngeliat baby nya dan denger denyut jantungnya, saya dan Utin hepi banget karena dokternya bilang everything was good. Setelah confirmed ada janin, kemudian kamipun kasih tau ke orang terdekat tentang kabar baik ini. Dan tentu saja semuanya sangat hepi, terutama orangtua dan oma kami. Karena semuanya bagus, dokterpun ijinin saya untuk berangkat ke Lombok 2 minggu setelahnya, dengan pesan ga boleh cape-cape dan ga boleh angkat berat-berat. We were so happy, karena emang ini liburan yang udah direncanakan sejak setahun yang lalu dan udah kami tunggu-tunggu.

Liburan ke Lombok berjalan lancar dan sangat menyenangkan. The baby was very good, saya ga mual sama sekali pas di Lombok. Padahal biasanya saya suka mual terutama kalau abis makan dan sebelum makan. Utin bilang, mungkin baby nya banci liburan sama kaya saya, kalau liburan happy, jadi ga mual-mual.

Beberapa hari pulang dari Lombok kami kontrol lagi ke dokter. Beberapa hari sebelum kontrol saya sempet cek darah untuk periksa Torch dan teman-temannya. Saat itu yang menjadi kekhawatiran saya hanyalah kalau-kalau hasil lab nya ga bagus, karena saya ada tokso dari lahir. We never thought that would be a heartbreaking visit. Masuk ke ruangan dokter, seperti biasa dokternya ajak chit chat dan tanya keadaan saya. Kemudian saya sodorin hasil lab sambil deg-deg an nunggu komentar dokter. Ternyata hasil lab bagus, ga ada masalah apa-apa. Kemudian dokterpun ajak saya untuk cek USG transvaginal, seperti biasanya. Saat USG, dokter masih memulai dengan ceria, sambil bilang ‘say hello to ur baby’, dan kita pun ketawa-tawa. Tapi begitu alat mulai digerak-gerakin, dokter terlihat kaget sambil terus menggerak-gerakan alatnya seperti mau mengkonfirmasi sesuatu. Saat itu juga feeling saya langsung ga enak. Setelah beberapa saat terdiam dokter pun bilang, “saya ga temuin detak jantungnya. Sorry to say this, but your baby already gone. Supposedly you’re on 10 weeks, but your baby still on 9 weeks, so it just had stopped growing.” Saya ga pernah sangka saya akan denger itu. Not that time.

The Living Nightmare

It was like your nightmare came true. I really couldnt believe and digested what the doctor had said. Then the rational part of us take over and we discussed how this could happen, was there any hope, and what’s the options. Dokternya bilang, kalau janin ga berkembang bukan karena faktor eksternal kaya makanan, travelling, kecapean dll. Kalau keguguran karena faktor eksternal biasanya kantong rahim nya turun, tapi ini ga ada masalah sama rahim, janin nya ga berkembang aja. Dan itu emang seleksi alam, kualitas janin nya ga bagus ketika terbentuk jadi meninggal sendiri. Kalaupun dia bisa survive kemungkinan bisa lahir cacat atau down syndrome. Dokter memastikan kalau ini bukan karena torch atau virus, karena hasil lab saya bagus. Tapi dia mau pastiin kekentalan darah saya dulu, karena ada kemungkinan janin meninggal karena masalah kekentalan darah – seperti kasus Ashanty katanya. Jadilah saya dikasih surat pengantar lagi untuk tes lab. Selanjutnya dokter kasih saya 2 opsi, untuk kasih obat peluruh, atau dikuret. Karena saya pernah denger kalo obat peluruh itu sakit banget jadi saya mau kuret aja. Dan kemudian dokter pun bikin schedule untuk kuret di Minggu depannya. Setelah kehabisan pertanyaan, kita pun pamit dari ruangan dokter.

Keluar ruangan dokter, saya dan Utin sama-sama dalam autopilot mode. Setelah urusin pembayaran, kami ke counter untuk meminta perhitungan biaya kuret (5 juta something kalau tanpa nginep) dan kemudian makan malem dan ngobrolin harus ngapain setelahnya. Jujur saya uda ga inget sekarang apa yang kita omongin waktu itu, it’s too painful to remember. Yang saya inget sampai makan malam saya masih blank, ga nangis sama sekali, dan masih berusaha mencerna situasinya. Hanya setelah saya WA salah satu sahabat yang dokter, ketika saya mulai cerita ke orang lain, disitulah kenyataan mulai diterima and the tears broke down.

I really didnt know how on earth I could tell my parents, my in law, and my grandma about this. They were so happy, and I was crushed to tell them the bad news. But sh*t happens and nothing i could do about it. I have to tell them however hurtful it may be. But it can wait at least until the next day, I have to grieve myself first.

That night, I couldnt sleep. I was like living on a nightmare. Once it started, the tears wont stop. I read a lot about miscarriage story on the internet, but it made me even more sad somehow. We had decided to see another doctor on the next day, to search for second opinion. Maybe there was a miracle that the first doctor was wrong. But I knew deep in my heart that the baby had gone.

Besoknya kami konsultasi ke dokter fetomaternal di Bunda. We met him before, and I dislike him because of his attitude. Tapi tetep kami putusin untuk ke dokter yang sama, walaupun dia songong, karena memang dia dokter yang diakui kehebatannya. Paling ga kita udah ke dokter yang jago dengan peralatan yang lebih oke yang bisa mengklarifikasi apakah janinnya memang ga berkembang dan apa penyebabnya.

Setelah nunggu beberapa jam, kami pun masuk ruang konsultasi. Setelah USG dokterpun bilang kalau janin nya bengkak karena down syndrome dan memang karena kelainan kromosom. Dokter ini pun mengkonfirmasi kalau benar janin sudah meninggal di usia 9 minggu. Ga ada yang bisa dilakuin karena memang kejadian ini random aja. Ga ada yang harus dilakuin juga untuk mencegah hal yang sama. Dokter pun kasih 3 opsi, untuk kuret, obat peluruh, atau tunggu sekitar 3 minggu nanti janinnya akan keluar sendiri. Dan kamipun memilih untuk menunggu janin nya keluar sendiri, agar proses nya lebih alami.

The struggling and waiting

Kenapa kami pilih untuk menunggu janin keluar secara natural?

Keputusan ini diambil dengan banyak pertimbangan. Dan saya sempat maju mundur soal keputusan ini. Karena gimanapun 3 minggu bukan waktu yang sebentar dan menunggu selama itu bukan hal yang gampang. Saya sering ragu-ragu selama 3 minggu itu untuk ngapa-ngapain, bahkan untuk olahraga aja saya ragu, karena kita ga pernah tau kapan janinnya akan keluar. Dari hasil browsing dan share beberapa orang dekat, ketika janin keluar sendiri, it will be a very heavy bleeding. Alhasil saya ga berani ngapa-ngapain selama 3 minggu.

Kalau yang saya baca, dan hasil tanya-tanya ke beberapa orang terpercaya, kuret merupakan proses yang aman dan hampir tidak ada resiko. Resiko ada, tapi kecil banget, dan karena proses kuret dilakukan oleh dokter yang memang ahli di bidangnya, tingkat resiko pun semakin kecil. Tapi setelah ngobrol panjang sama Utin, seberapa pun kecil resikonya, tetap lebih baik untuk menghindari resiko. Lagipula usia janin saya masih kecil, jadi harusnya lebih gampang untuk keluar secara natural dan langsung bersih, tanpa ada jaringan yang tertinggal.

Miscarriage itself is not an easy thing to deal. And with the fetus still inside my body, i felt like i couldnt move on. I wasnt pregnant anymore, yet i still had fetus inside my body. It was really a weird and depressing feeling. The first few days i always woke up with distressed feeling, like I woke up to a living nightmare. And dont forget about the concern questions from the close family. I hate to make them worried about me.

That’s why i seldom tempted to just end this with curette so I can move on with my life. But Utin always support me and reasoned me that everything happens for reasons and if God let this happened to us, He must want to teach us something, and maybe the waiting itself was also part of the process that we have to learn and endure. And anyway anything natural always better than surgical.

Tepat 3 minggu kemudian seperti kata dokter, saya pendarahan hebat. Selama 3 minggu menunggu, saya ga pernah keluar flek sama sekali, hanya keputihan. H-1 sebelum pendarahan, mulai keluar flek dan darah sedikit, yang kemudian berhenti. Pagi hari nya masih belum ada tanda-tanda akan pendarahan. Jadinya saya ke kantor seperti biasa dengan persiapan pembalut saja. Sore harinya, saya mulai berasa kram perut seperti mau mens, dan saya pun tau kalau badan saya lagi dalam proses pengeluaran janin. Tapi hari itu ada farewell salah satu sahabat saya di kantor, jadi saya ga bisa langsung pulang. Malamnya, ketika farewell diner sudah selesai dan kita udah siap-siap mau pulang. saya pun berasa kalau saya mulai pendarahan. Banyak. Sayapun langsung ke toilet dan bener aja ternyata pembalut paling tebal yang saya pakai udah penuh sama darah. Darahpun terus mengucur jadilah saya cuma bisa duduk di toilet sampai pendarahannya berkurang. Thanks God saya lagi sama temen-temen saya (dan cewe-cewe semua lagi), jadi ada yang bisa bantuin. Setelah beberapa menit akhirnya pendarahan berkurang drastis dan sayapun bisa pulang.

Keesokan harinya saya cek ke dokter lagi, dan hasil USG menunjukkan kalo janin sudah keluar, hanya sisa jaringan kurang lebih 2 cm yang bisa dikeluarkan dengan obat peluruh. Tadinya saya ga mau minum obat peluruh, karena saya denger sakit banget, tapi saya lebih ga mau kuret, jadilah saya ga punya opsi lagi.

Tadinya saya kira selama minum obat peluruh saya bakalan harus bedrest dan ga bisa kemana-mana. Nyatanya, bahkan saya ga perlu minum painkiller yang diresepin dokter, karena ternyata ga sakit seperti yang saya bayangkan. Bahkan saya ga mules-mules seperti waktu pendarahan. Yang saya rasakan cuma perut melilit seperti sakit maag dan diare. Aneh ya? Tapi karena dokternya bilang diterusin aja, jadilah saya terusin obatnya.

Sekarang saya udah selesai minum obatnya, hanya tinggal tunggu kontrol ke dokter sama nunggu flek nya berhenti. Semoga nanti hasilnya bagus dan semoga semuanya cepet beres.

The lesson (may) learned

I have several questions of why this happened to me. But the big question is, If He wants to take it away, why He has to give me this pregnancy from the first time? Then after a long process and struggling, what Utin had said finally made sense to me. I finally accept that maybe the point is not the gift from God in pregnancy, but maybe the lesson is about how to let go something that never been ours.

Until now, I am still on progress to move on. I may never really understand what His plan for me, I may still have my own fear and ‘trauma’, but I’m trying to never lose hope and never lose faith.

*****

It’s a very personal experience for me. So please do understand that I am NOT comfortable talking about this. You may leave comment, you may text me, but please dont ask me straight to my face whenever you see me. Dont get me wrong, I am and will be very grateful for every concern and support, I really do. Just dont think I am stable enough to talk about this. Or you can pray for me. I still think it’s the best form of support anyone can give🙂

The only reason I decide to share this, is only to help those who may be in the same condition. Because it’s always good to know that you’re not the only one to face this condition. I also want to thank one of my blogger friend (you know who you are) who happened to face the same condition, and she has been very kind and supportive to me, thank you!

Last but not least, I want to share a good article to you, especially for those who struggle with miscarriage and for those who want to understand better. You can read the article here.

17 thoughts on “(Not) A Happy Ending Story (Yet)

  1. Sending you all my love and hugs. You’re a strong woman, Dea, and one day you’ll be an incredible mother. He knows what’s best for us🙂

  2. Hai Dea, aku juga pernah mengalami seperti kamu, tapi bedanya aku gak tau kalo janin ga berkembang sampai suatu hari pendarahaan dan akhirnya memutuskan untuk dikuret.. it’s hurt but life must go on.. stay strong ya.. Gbu

  3. Dea, aku baru baca postingan yang ini.. Aku jadi sedih bacanya, stay strong ya dear.. Everything happen for a reason, walaupun kadang kita sendiri bertanya-tanya kenapa Tuhan ngijinin hal2 itu terjadi sama kita. Aku yakin Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk kamu dan Utin.. Semangat terus yaa De..🙂

  4. knowing that it is not easy to tell such a personal story like this, but yet you share it for a good purpose, I think you are an angel. be strong ya dea and thank you for sharing this. GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s