Soal Kebiasaan Belanja

Waktu belom ngerasain yang namanya punya pacar, salah satu temen saya pernah bilang kalau pacaran bisa bikin seseorang lebih toleran, dan juga lebih kenal dirinya sendiri. Waktu itu tentu aja saya iya-iya aja (wong belom pernah pacaran) walau sebenernya agak-agak sangsi juga. ‘Masa sih pacaran bikin lebih kenal diri sendiri? Emang harus punya pacar dulu baru bisa kenal diri sendiri? Kasian amat. Kalau ga punya-punya pacar (nunjuk diri sendiri waktu itu) jadi ga bisa kenal diri sendiri donk? Emang kalo temenan biasa ga bisa kenal diri sendiri?‘ – dan sejuta pertanyaan skeptis lainnya.

Dan baru belakangan ini saya mengamini pernyataan tersebut. Salah satunya ya, saya baru sadar tentang kebiasaan dan cara belanja saya yang ternyata bertolak belakang sama Utin. Walau ujung-ujungnya kalau ditotal jumlah belanjaannya sama, tapi cara belanjanya totally different.

Utin

Utin, kalau mau beli barang pasti akan survey dengan detail terlebih dahulu. Jangankan barang elektronik (yang memang perlu survey), tapi bangsa sendal atau sepatu, atau lego, atau kaos pun dia pasti browsing dulu dan bisa muter-muter toko dari berbagai mall dan outlet. Soalnya dia biasa udah punya preferensi brand yang dia suka, jadi kalaupun dia mau beli dia uda tau apa yang harus dicari. Dulu pernah lo, demi sebuah sendal kita sampe datengin tempat futsal di daerah yang lumayan jauh dari rumah kita, demi datengin sebuah kios kecil di tempat futsal tersebut yang jual sendal incerannya Utin. Rempong? Emang hahahaha. Tapi hasilnya ya dia puas banget dapetin sendal itu. Walau ujung-ujungnya sih dia harus ngerelain sendalnya diminta (alm) ayahnya yang kakinya sakit waktu itu dan berakhir hilang gitu aja ga tau diambil siapa.

Prinsipnya Utin, mending beli 1 barang yang quality nya bagus dan bisa dipakenya awet. Walau harganya mahal ya gapapa, mending nabung beli barang yang emang beneran disuka, daripada beli barang yang ga terlalu suka tapi lebih murah. Alhasil, kalo dia beli barang biasanya lumayan nampol (karena rata-rata harganya lumayan mahal) tapi ya dia jarang-jarang belinya, kecuali barangnya uda rusak atau hilang jadi harus beli lagi.

Dea

Nah kalo saya kebiasaan nya beda 180 derajat sama Utin. Mungkin karena barang-barang yang disuka beda juga ya. Kalau saya lebih impulsif, lebih suka beli yang murah dengan medium quality, tapi setiap kali liat yang lucu dan murah saya bisa beli hahaha. Kalau barangnya ga awet ya gapapa, itu artinya saya bisa beli yang baru (dengan harga yang murah tentunya hihi). Buat saya kesenangannya adalah ketika saya menemukan barang lucu dan murah dan saya bisa beli. Makanya frekuensi belanja saya lebih banyak dari Utin, tapi ujung-ujungnya jumlah barangnya ya sama aja karena barang-barang saya biasa lebih ga tahan lama. Dan tentu aja saya ga kelebihan duit sampe bisa beli setiap barang lucu yang saya temuin hahha.

Untuk urusan survey sebelom beli, saya ga suka survey online dalam hal ini. Beda hal nya kalo survey keliling-keliling mal, kalo itu saya suka hehe. Utin suka bilang, kalo emang mau beli  barang ya browsing dulu lah di website nya ada barang apa aja, jadi tau apa yang mau dibeli. Dan saya selalu nolak. Buat saya, kenyataannya barang yang ada di toko belom tentu sama dengan yang di internet. Dan di toko pilihannya ga terbatas dengan berbagai penawaran. Jadi tinggal tunggu barang dengan harga yang pas, yang saya suka, dan sesuai kondisi dompet haha. Buat elektronik juga gitu, karena bukan gadget freak, buat saya asal kamera bagus dan harga bersahabat dengan fitur2 standarpun saya oke. Dan saya pun bukan orang yang punya preferensi brand. Mungkin ada beberapa brand yang saya suka tapi tentu aja kalau ada penawaran lebih bagus dari brand lain kenapa engga? :D

Prinsip saya, price before quality. Mungkin karena saya naik turun kendaraan umum juga ya, jadi saya tau diri juga ga bakal pake barang-barang mahal-mahal supaya ga membahayakan keselamatan diri sendiri. Barang yang tadinya ga suka dan ga perlu bisa tiba-tiba jadi menarik kalo harganya bagus hehe. Buat saya mood juga berperan penting. Kalau lagi ga mood mau sale sebesar apapun saya bisa ga niat belanja, dan kalau lagi mood bisa terus-terusan belanja dalam waktu dekat. (dan tentu aja mood sama kondisi dompet berkaitan erat hihihi).

***

Lucu ya, saya baru sadar kalau orang emang beda-beda sampai cara belanja aja beda. Dan perbedaan kaya gini kalau mood lagi ga bagus bisa memicu pertengkaran-pertengkaran kecil loh. Utin suka gregetan kalau liat saya beli barang-barang murah tapi cepet rusak. Dan saya juga suka gregetan kalau liat dia rempong banget kalo mau beli barang. Makanya ngobrol-ngobrol soal beda karakter ini penting banget buat kita supaya paling ga lebih ngerti prinsip belanja masing-masing dan ga banyak komen-komen berlebihan hehehe.

Jadi, kalo kebiasaan belanja kamu kaya gimana? :D

Love is never easy

Belakangan saya lagi suka nonton salah satu serial baru di Star World, ‘Miss Advised‘. Ini serial tentang 3 cewe yang berprofesi sebagai pakar cinta, – relationship expert, professional matchmaker, and sex expert’, tapi malah berjuang dengan kehidupan cinta mereka sendiri, bolak balik gagal dalam hubungan, dan harus berjuang buat menemukan ‘the one’, ‘soulmate’ or whatever you call it. Ironis ya? Ga peduli berapa banyak teori tentang cinta yang mereka tau, kenyataannya cinta itu bukan teori. Nonton film ini bikin saya kepikiran beberapa hal tentang cinta, terutama dari tagline iklan nya, ‘The road to love is never easy’

Beberapa hari yang lalu, temen saya bilang kalau makin gede makin susah nemu orang baru yang bisa jadi calon pacar. Waktu sekolah dan kuliah kesempatan untuk ketemu orang baru masih banyak, kesempatan untuk kenalan terbuka lebar, tapi semakin dewasa semakin susah ketemu orang baru, terutama kalau bidang pekerjaan yang dijalanin bukan pekerjaan yang banyak ketemu orang baru. Ya memang semua itu pilihan, tapi tetep aja makin gede pergaulan makin terbatas, makin banyak temen yang udah punya hubungan serius, udah married, bahkan uda punya anak, dan makin mempersempit kemungkinan untuk ketemu calon pacar, apalagi calon suami/istri. Yeah, that’s true, and that could be frustrating.

I’ve been there before. Eventhough i wasnt a professional neither expert in the field of love. but i really know the feeling. Seperti yang udah pernah saya cerita sebelumnya, Utin adalah pacar pertama dan terakhir saya. Bukan karena sengaja sok-sok an cuma mau pacaran sekali seumur hidup, tapi emang karena saya baru dikasih kesempatan sama Tuhan buat ngerasain punya pacar setelah saya lulus sidang tugas akhir. Jadi saya melewati masa SMA dan kuliah saya gigit jari, ngeliat temen-temen satu persatu mulai punya pacar, putus, punya pacar lagi, putus lagi, dst, sementara saya masih aja jomblo. Saya udah ngelewatin nightmare STMJ tahap 1 dan 2 – Semester Tiga Masih Jomblo, Semester Tujuh Masih Jomblo, dan untungnya ga sampe tahap 3, Setelah Tamat Masih Jomblo, padahal saya takut banget ngalamin itu. (tapi toh setelah terpaksa dilewatin itu, it wasnt the end of the world anyway).  Bukan ga ada yang saya taksir atau ga ada yang ngedeketin, but somehow none of them felt right. Walaupun pernah deket sampe-sampe ampir jadian (menurut saya loh hahaha), toh ujung-ujungnya juga ga jadian, entah saya yang menjauh, atau dia nya yang menjauh. Dan yang kaya gini kejadian berkali-kali.

So, yes I know how it feels to be frustrated because you dont know where to find the right one for you. You think you have done everything, but love seems doesnt want to come to you. So frustrated that you feel that something is wrong with you, but you dont know what and how to fix it. Yeah, for me the road to love was not easy either. Eventhough those moments have passed (thanks God for that! It was really a miracle though i could met him at the first place), i still remember the feeling clearly. And i think that is the feeling that i couldnt forget. Ever.

So what’s the point of writing this post anyway? Well, this is a note to myself (and to you who consider yourselves lucky and blessed enough to have found love), about how i should appreciate love given in my life more. How i should appreciate my husband, and our marriage even more. I still remember there were moments when i was mad at people who already found their other halves, but still complaining and complaining. ‘Dont they know that they are lucky enough even to find love?’ I used to think like that. And yeah i know, things changed and maybe at this moment people can be mad at me especially when i complained about my relationship. Because sometimes i forget that actually i am blessed to have someone special in my life, and i forget how hard it was to find love.

Indeed, love itself is never easy. Even after you think you have found the right one, you will still need to struggle to keep and to maintain it. You will need a hard work to keep the fire burning, and of course you need to sacrifice some (even all) your egos, for the sake to make the relationship works. It’s not easy, everything has its own consequences, and it’s up to you which consequences that you are more willing to take.

So, in the end of this endless babbling, i just want to say, ‘Good luck and dont give up on love’ to those who are still struggling to find love. Just remember, you have precious freedom that sometimes married couple wishes to have. Have as much fun as you could and be yourself, because i believe that somehow love will find its way to you, as long as you keep your arms and mind open, and still believe in it.

I also want to say the same thing : ‘Good luck and dont give up on love’ to those who are blessed with love, and need to struggle to maintain it. Just remember that there are many people who are willing to give almost anything to have someone special in their lives, and remember your-not-so-easy -road to love. Hopefully it will make you appreciate your partner and your relationship more. People said, the harder you get it, the more you will appreciate it.

Happy loving, people! :)

Cheers!

Watch Zone, MKG 3

Postingan ini dibuat sebagai bentuk kekecewaan saya terhadap SPG Watch Zone Mal Kelapa Gading 3.

Rabu, 3 April 2013, saya mendatangi counter Wacth Zone di MKG3 untuk mengganti baterai jam Guess milik suami saya. Ada 2 orang SPG yang stand by di counter tersebut, dan mereka menyambut saya dengan baik. Ketika saya menyatakan bahwa saya hendak mengganti baterai, mereka menjelaskan mengenai biaya, prosedur, dan waktu yang diperlukan. Mereka juga sempat menanyakan apakah saya mau mengganti kulit jam tersebut.

Sambil menjelaskan, mereka sambil mengamati jam suami saya. Dan tiba-tiba salah seorang SPG nya bilang, “Mbak beli jam nya dimana? Kayanya beda deh sama yang kita punya”. Saya bilang, saya memang beli jam ini di luar negeri. Dan kemudian SPG tersebut mengambil barang yang serupa yang dijual di counter mereka, dan sambil membanding-bandingkan kedua jam tersebut dia bilang, “Maaf Mbak, tapi jam nya Mbak palsu deh.”

Saya pun kaget. Karena jam ini saya yang beli sendiri di toko Guess resmi di US. Dan itu bukan counter/ showroom yang ada di mall, tapi memang outlet/bangunan berdiri sendiri dengan brand Guess, bukan gabungan dengan brand-brand lain. Saya memang ga bawa kartu garansinya kemaren, karena jam itu saya beli 2 tahun yang lalu dan garansi untuk ganti baterai gratis nya udah habis. Tapi saya punya semua kartu garansi resmi sampai kotak nya pun masih ada. Bahkan karena pembelian di toko Guess di US tersebut saya punya kartu member Guess international dan terdaftar dalam mailing list mereka. Kalau memang itu toko ga resmi, masa iya saya bisa terdaftar dalam member dkk itu?

Saya pun protes sama mbak SPG nya, saya bilang kalo saya beli di toko resmi di US dan ga mungkin palsu. Tapi mereka bersikeras kalau kode product (ini yang saya tangkap dari omongan mereka) berbeda, dan di jam tangan versi mereka tidak ada tulisan water resistant.. Saya pun bilang, ya mungkin aja kodenya beda karena emang beda product, dan mereka tetap bersikeras kalo jam tangan saya itu palsu walau bentuknya sama persis. Dan mereka pun bilang, “Maaf Mbak, kalo jam tangan palsu kita ga bisa terima untuk penggantian baterainya.”

Setelah itu saya sempat debat dengan mereka tapi mereka tetap bersikeras kalau jam tangan saya palsu dan mereka ga mau terima. Akhirnya saya minta jam saya balik dan saya bilang kalo saya mau bawa ke showroom Guess nya aja langsung (yang ada di lantai yang sama). Dan mereka pun memberikan jam saya sembari bilang, “Ya walaupun bawa ke Guess nya langsung juga sama aja Mbak, kita kan dealer resmi nya Guess. Kalau emang palsu ya ga diterima.”

Saya langsung ke showroom Guess dan mendatangi SPG disana. Saya bilang saya mau ganti baterai jam, dan menanyakan biaya, prosedur dsb. Mbak SPG pun kembali mengamati jam saya sambil menjelaskan prosedurnya. Ternyata di Guess biayanya lebih mahal (hampir 2x biaya yang disebutkan di Watch Zone). Jadi saya menunda penggantian jam tersebut, lagipula mereka menjelaskan kalau proses penggantian baterai memakan waktu paling cepat 3 minggu, tapi kalau mau langsung dikerjakan bisa di showroom mereka yang di Taman Anggrek atau di Gedung Artha Graha karena disana ada teknisinya. Jadi saya pikir nanti aja kalau saya sekalian ke TA saya ganti baterainya. Tapi yang jelas, SPG di showroom Guess nya ga mempermasalahkan sama sekali soal jam saya, apalagi bilang jam saya palsu. Padahal (harusnya) mereka kan yang punya brand knowledge lebih untuk product mereka, dan kalau ada jam tangan palsu, harusnya mereka yang pertama akan mengenali, bukannya SPG Watch Zone yang notabene punya beberapa brand sekaligus.

Sungguh saya kecewa dengan SPG Watch Zone di MKG3. Saya mengerti kalau mereka harus mengikuti prosedur, dan mungkin memang prosedurnya ga bisa nerima jam tangan palsu. Tapi, apakah mereka bisa langsung begitu aja men-judge kalau jam tangan saya palsu, bahkan tanpa menanyakan kartu garansi, atau hal-hal lain yang bisa membuktikan kalau memang itu jam tangan palsu? Apakah keaslian sebuah jam tangan hanya bergantung pada product knowledge mereka semata? Logika aja, kalau saya beli barangnya di US, bisa aja produksinya memang berbeda, even untuk product/seri yang sama. Setau saya, sebuah product yang sama bisa diproduksi oleh beberapa negara, karena distribusinya yang berbeda. Dan apakah memang training dan product knowledge mereka udah secanggih itu sampe tau setiap jam tangan Guess di seluruh dunia? Padahal saya mau mengganti baterai ini dengan membayar lho, bukan dengan garansi ganti baterai yang gratisan itu.

Hey, saya ini customer, dan sungguh ga sopan kalau Anda sebagai SPG langsung men-judge seperti itu tanpa mendengarkan penjelasan saya dan mencari tau lebih lanjut tentang keaslian suatu product. Apa ga pernah terpikir kalau Anda bisa aja salah menilai  karena product knowledge yang terbatas, dan dapat merugikan perusahaan tempat Anda bekerja? Apakah Anda sadar kalau perilaku tersebut bisa membuat reputasi perusahaan buruk sedangkan untuk retail company brand image adalah segalanya, hanya karena ketidak tahuan mengenai product yang Anda jual?

Saya udah sampaikan keluhan dan masukan saya kepada pihak Wacth Zone Indonesia melalui twitter, tapi ga ada tanggapan. Memang kalau lihat profile mereka, terakhir mereka tweet itu bulan Febuari, jadi memang mungkin twitter mereka ga terlalu update. Untuk pihak manajemen Watch Zone (kalau-kalau aja ada yang baca), ini masukan dari saya, please do train your SPG more. Jangan sampai brand image perusahaan jelek hanya karena ketidak tahuan atau (maaf) ke-sok tahuan- SPG . Semoga false accusation like this cuma terjadi sama saya, dan bukan terjadi ke banyak customer. Kalau Watch Zone, sebagai dealer resmi, SPG nya ga bisa bedain yang mana barang asli dan mana yang bukan, dimana kredibilitas perusahaannya?

Demikian share pengalaman saya, supaya bisa jadi pembelajaran juga buat temen-temen semua. Postingan ini dibuat hanya sebagai sharing dan masukan, tanpa bermaksud menjelekkan pihak manapun.  Happy Friday! :)

And it’s finally finished!

Masih inget soal drama komplenan saya soal voucher LS yang ga bisa dipake? Akhirnya drama seri ini berakhir sudah, dan thanks God berakhir dengan baik pula.

Yak, jadi tanggal 27 Maret kemaren pihak LS sudah me-refund uang saya (full, ga pake potongan) atas pembelian voucher LS yang ga bisa dipake karena restoran udah tutup sebelum masa berlaku voucher.

So thank you buat pihak LS yang pada akhirnya cukup bertanggung jawab dan beritikad baik me-refund uang saya, walaupun proses nya makan waktu cukup lama. Semoga ke depannya ga ada kejadian kaya gini lagi.

And with that statement i finally can say : CASE CLOSED.

Happy Monday everyone!

 

Cerita Tentang Abang Tahu Gejrot

Hello holla semuanya! Apa kabarnya? Kalau saya sih belakangan lagi sibuk dikejar deadline yang rasa-rasanya belom pernah sebanyak ini dalam sejarah karir saya di perusahaan yang sekarang *hiks; makanya sori sori dulu ya kalau belakangan jarang blogwalking, jarang komen-komen, sama jarang update blog inih, padahal mah pengen banget huhuhu.

Kemaren ini nyokap cerita tentang seorang abang-abang tahu gejrot (tau kan ya tahu gejrot? Kalo ga tau silahkan googling sendiri ya, dan kalo yang belom nyobain, cobain dehh.. enyaakkk :D ) dan menurut saya cerita singkatnya sangat inspiratif dan perlu diabadikan di sebuah postingan. Jadilah saya menyempatkan diri nulis postingan singkat ini supaya ga keburu lupa hihihi.

Jadi si abang ini, atau tepatnya bapak – karena udah cukup berumur, udah cukup lama jualan tahu gejrot. Rumahnya di tanah abang, dan tiap hari dia jalan kaki dorong gerobaknya ke daerah senen. Jalan kaki bo! Kebayang ga sih? Tiap hari dia keluar dari rumahnya sekitar pk 2 siang, terus mulai jalan kaki ke beberapa tempat dia biasa mangkal. Dia terus jualan sampe jam 12 malem, dan baru sampe rumah lagi jam 2 pagi. Gila ga sih? Saya ngebayanginnya aja cape. Dan nyokap pun cerita penggalan obrolan mereka yang bikin saya tersentuh :

“Terus sehari untungnya bisa berapa Pak?”

 

Alhamdulillah, sehari bisa 70-80 ribu. Orang-orang juga banyak yang bilang, ‘gila lo ya, ngapain jalan jauh-jauh kaya gitu?’ Tapi Alhamdulillah ya Bu saya belom gila.”

Dalam segala kesederhanaannya, si Bapak tetap mengucap syukur buat segala sesuatu yang dia terima. Emang bener kata pepatah, happiness is a choice, happiness is a state of mind. Saya kaya tertampar denger cerita nyokap, tentang gimana seorang penjual tahu gejrot dengan penghasilan ‘hanya’ sekitar 70-80 ribu sehari tapi harus berjuang 12 jam di jalanan, bisa tetap bersyukur menjalanai hari-harinya. Bukannya ngeluh, tapi dia memilih bersyukur. Dan saya percaya karena sikap hatinya itu Tuhan berkati dia, buktinya ketika harga bawang meroket tinggi dia masih bisa bertahan jualan, di saat banyak pedagang tahu gejrot lain yang ga bisa jualan karena ga bisa beli bawang. (ini menurut cerita si bapak,dari sekitar 40 gerobak tahu gejrot cuma sekitar 20 yang masih jualan, karena tingginya harga bawang).

Jadi, saya beryukur di tengah deadline yang menumpuk dan dalam momen menyambut paskah ini Tuhan masih ingetin saya lewat kisah ini. Kalau bapak penjual tahu gejrot aja bisa beryukur, gimana dengan saya? Pantaskah saya ngeluh dengan banyaknya deadline di saat banyak orang struggling untuk dapat kerjaan? Pantaskah saya mengeluh dengan nominal gaji yang saya dapat padahal hanya Tuhanlah yang memberkati dan menghidupi saya? Gimana dengan kamu? :)

Dan masih dalam rangka menyambut paskah, komisi pemuda gereja saya dalam blog nya- komikmuda, ngadain easter giveaway dengan hadiah utama Ipod Shuffle!! Woohoo! Tentu aja saya harus ikutan donkk hahaha. Buat yang pengen ikutan bisa langsung berkunjung ke sini ya. Mereka ini rajin banget update blog nya, salut deh saya. Kapan ya saya bisa kaya gitu *lirik tumpukan deadline.

Di saat banyak deadline kaya gini bener-bener godaan banget baca postingannya May sama Melissa tentang liburan huhuhuhu. Untung Tuhan sangat amat baik, di saat-saat titik jenuh kaya gini Tiger Airways ngadain promo gede-gedean. And thanks to that, with a flight ticket in my hand, it’s like i have a new energy in catching my deadlines! *wink wink

So, that’s it for now. Wish me luck for my deadlines ya! Hope to catch back with you soon!

Cheers!

 

 

Fish n Co date

Walau dalam beberapa post terakhir saya sering komplain tentang voucher diskon, tapi tetep aja pada dasarnya saya masih belom kapok. Karena menurut saya, asal ati-ati pas milih voucher yang dibeli dan company yang jualan voucher, pake voucher itu bisa jadi good deal banget, apalagi kalo mau icip-icip resto (relatif) mahal tapi ga mau keluar duit banyak-banyak *pelit hihi. Contohnya ya kemaren ini pas makan fish n co di pacific place pake voucher yang dibeli dari GD. Puas bener rasanya *senyumpenuhkemenangan.

Iya jadi beberapa bulan yang lalu saya beli voucher fish n co di GD, karena promo voucher yang bisa dipake pas weekend cuma di fish n co pacific place, jadilah saya beli yang disana. Abis kalo hari biasa takut ga bisa, jadi ya apa boleh buat. Padahal mah aslinya males maen-maen kesana, abis ga ada yang bisa dibeli juga sih, uda malah parkirnya mahal pula *uda diskon aja banyak maunya. Tapi ya demi fish n co ya tak apalah hehe.

Saking udah lama belinya, saya udah lupa harga voucher nya berapa. Yang pasti, dengan voucher itu kita bisa dapet 1 porsi fish n chip around the word + juice. Lumayan kan? Udah gitu kalau makannya di antara jam 2 siang sampai 6 sore, dessert nya diskon 50 persen. Mantap deh pokoknya.

Tadinya udah kalap pengen langsung pesen dessert di awal, apalagi liat ada chocolate melt, tapi untung masih inget pengalaman terakhir makan fish n co itu porsinya bener-bener buanyak sampe begah hahaha. Dan ternyata keputusan kita pun tepat, karena ini dia porsi nya

image
New York fish n chip – 89k

image
Danish fish n chip – 89k

Saya ga tau sih kalau kalian liat porsi segini, gede ato sedeng? Kalo saya, pas liat pertama sih mikirnya masih yakin bisa ngabisin + nambah dessert *belagu. Tapi ternyataaa.. Bahkan itu kentang-kentang tak sanggup saya habiskan! (Kalo ikannya sih harus wajib kudu diabisin ya, walo begah juga hahaha). Boro-boro deh dessert, rasanya kenyang bener sampe ga mau makan malem hahhaha.

image
Pose standard utin kalo difoto sama makanan

image
Pose standard saya kalo difoto sama apapun

Soal rasa sih ga usah diragukan ya. They are still selling the best fish n chip in town. Makanya saya bilang puas banget bisa makan enak pake voucher. Good deal !

Kalo soal service, ga ada perbedaan antara pake voucher dan tamu reguler, dan ga perlu reservasi juga. Cuma kalo saya liat si waiter/waitress nya cenderung kurang ya dibanding jumlah tamu yang dateng. Pas saya dateng, sekitar jam 2an, resto ga gitu rame, tapi banyak meja-meja yang belom sempet diberesin (kalo 1 si masih wajar ya, tapi kemaren saya itung ada lebih dari 3 meja yang piring gelas kotornya belom diberesin), udah gitu ga ada waiter yang biasa ada di depan untuk nyambut customer dan ngasih menu. Saya perlu nunggu beberapa menit sampe meja saya diberesin dan menu dikasih, padahal itu resto lagi ga rame, tapi emang jumlah waiter/waitress nya aja yang dikit. Trus satu lagi, ini sih kayanya kita aja yang sial, dapetnya waiter yang kayanya lagi PMS. Well jutek sih engga, cuma doski kagak ada senyum-senyum nya dan ramah-ramahnya. Padahal kalo liat waiter-waitress yang lain baik-baik aja. Dan lebih ‘sial’nya lagi karena dia yang lewat pas kita minta tolong fotoin, jadi kaga brani minta ulang foto deh, walo hasilnya kurang memuaskan .

image
Gara-gara waitress PMS foto ga bisa diulang

Well overall, saya puas bener pake voucher kali ini. Definitely will buy again if there’s something like this again.

Terakhir, pas abis bayar parkir kita merasakan kenyataan pahit – durasi parkir kita 2 jam 1 menit dooonnkk! Gara-gara si 1 menit kita harus nambah 4 ribu lagi dehh. Bukannya pelit, tapi kan daripada beda semenit doank mending jalan-jalan lamaan kannn *alesanbiargadibilangpelit *padahalsamaajapelit hahaha.

image
Ketika 1 menit=4k

So it’s the story of my weekend. How’s yours? :)
Happy monday all! Semangat kerjanya, karena Selasa libur lagiii!! (sorry folks, indonesian only :D )

Hati-hati Kalau Beli Voucher (Part 3)

Sebelom diprotes rame-rame, tenang…. ini bukan postingan komplen (lagi) kok. Ini cuma sekedar update aja hehe. Untuk baca kronologis ceritanya bisa dibaca disini (Part 1 dan Part 2).

Jadi, kemaren ini Melisa tiba-tiba update komen di postingan saya, katanya dia baru aja ditransfer balik sama pihak LS untuk refund uangnya, dan katanya sekarang kalo email LS udah dibales. Nahhhh jadilah saya langsung buru-buru email LS juga.

Intinya sih saya cuma minta pertanggungjawaban pihak LS untuk refund uang saya atas pembelian voucher restoran yang ternyata udah tutup sebelom bisa dipake vouchernya itu. Ga lama, saya dapet email balesan yang intinya menyatakan bahwa email saya sudah diterima dan sudah terdaftar dalam support center LS. Wah kemajuan banget nih. Dan beberapa lama kemudian datenglah email balasan yang ditunggu-tunggu. Intinya mereka minta maaf dan bilang untuk proses refund mereka minta saya mengirimkan beberapa data yang dibutuhkan. Saya sampe deg-degan pas bales emailnya *drama. hahahaa.

Jadi, sekarang saya lagi nunggu respon mereka lagi. Mereka ga jelasin juga sih proses refund itu berapa lama, dan email saya yang terakhir belom dibales. Yah, moga-moga aja uang saya beneran bisa balik ya. Dan moga-moga dengan adanya progress dari mereka ini bener-bener nunjukkin kalo mereka sedang memperbaiki service mereka dan bisa lebih oke ke depannya.

PS: Thank you soo much yah Mel buat infonya! :D